Kumparan Logo

PT Timah Gandeng Perminas Olah Logam Tanah Jarang dan Slag Timah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi PT Timah. Foto: T. Schneider/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi PT Timah. Foto: T. Schneider/Shutterstock

PT Timah (Persero) Tbk (TINS) menggaet PT Pertambangan Mineral Nasional (Perminas) dalam pengembangan hilirisasi mineral strategis nasional, yakni komoditas timah dan mineral ikutannya logam tanah jarang atau rare earth element.

Hal ini dilakukan melalui penandatangan Conditional Framework PT Timah dan PT Perminas dalam pengembangan pengolahan slag timah dan rare earth elements (REE/LTJ) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kerja sama ini dituangkan dalam kerangka kerja sama bersyarat bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit dan REE/LTJ Bangka, efektif mulai Rabu 29 Mei 2026.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung agenda hilirisasi pemerintah sekaligus memperkuat kedaulatan mineral nasional melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang selama ini belum dikelola secara maksimal.

Direktur Utama PT Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, menyampaikan proses menuju kerja sama tersebut melalui pembahasan intensif untuk menyusun framework kolaborasi yang akan dijalankan kedua perusahaan.

“Ini bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret untuk memulai perjalanan baru dalam membangun kedaulatan mineral Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (23/5).

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut diarahkan menjadi kemitraan strategis jangka panjang dalam pengembangan pengolahan slag timah dan mineral tanah jarang.

Dalam prosesnya, kedua perusahaan juga mempelajari berbagai aspek pengembangan, termasuk penguatan teknologi pengolahan guna mempercepat hilirisasi mineral strategis nasional.

“Teknologi pengolahan ini memang cukup strategis dan selama ini banyak dikunci oleh negara lain. Karena itu kami berupaya menghadirkan partner yang tepat agar proses pengolahan bisa dipercepat,” katanya.

Gilarsi menambahkan, tantangan terbesar percepatan hilirisasi saat ini tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga regulasi dan perizinan agar proses pengolahan dapat segera direalisasikan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah yang membuka peluang perusahaan memperluas peran dalam pengembangan hilirisasi mineral strategis.

Penandatangan Conditional Framework PT Timah dan PT Perminas dalam pengembangan pengolahan slag timah dan rare earth elements di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Foto: Dok. PT Timah

Restu menjelaskan, selama puluhan tahun PT Timah berfokus pada pengolahan bijih timah dari hulu hingga hilir untuk kebutuhan ekspor. Namun melalui kerja sama strategis tersebut, perusahaan kini memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengelolaan mineral strategis.

“Selama ini PT Timah hanya fokus mengelola bijih timah dari hulu sampai hilir untuk ekspor. Dengan adanya kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas melalui pengembangan hilirisasi dan pengelolaan mineral strategis,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, slag yang selama ini dianggap sebagai sisa hasil produksi ternyata memiliki potensi ekonomi dan strategis yang besar. Melalui kerja sama pengolahan slag dan mineral tanah jarang, material tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun negara.

Beberapa fokus pengembangan yang akan diperkuat antara lain validasi teknologi, penyusunan kajian teknis dan komersial, penguatan aspek perizinan hingga keselamatan kerja.

Senada, Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menilai sektor rare earth elements selama ini menjadi industri yang terlupakan karena belum mampu memberikan nilai tambah optimal bagi negara.

“Kami ingin mendorong industri yang selama ini terlupakan. Mineral ini sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi belum mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi negara,” ujarnya.

Sigit menyebutkan bahwa Danantara siap memfasilitasi berbagai kebutuhan percepatan proyek, termasuk dukungan aspek perizinan dan penyelesaian kendala dalam pengembangan hilirisasi mineral strategis.

“Selama ini potensi REE banyak yang hilang tanpa sempat dimanfaatkan secara optimal. Padahal nilai strategisnya sangat besar bagi masa depan industri nasional,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto menyebut pengembangan hilirisasi REE dan mineral strategis menjadi langkah penting untuk memperkuat industrialisasi nasional.

“Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin lagi mengekspor sumber daya alam dalam bentuk mentah. Karena itu hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan kelas bangsa kita,” ujarnya.

Menurut Brian, pengembangan industri mineral strategis tidak hanya bertujuan meningkatkan ekonomi nasional, tetapi juga membangun kepercayaan diri bangsa agar mampu sejajar dengan negara maju dalam industri mineral kritis dunia.