Kumparan Logo

PT Timah Tanggapi Soal Industri Baterai Mobil Listrik & Rencana Elon Musk di RI

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk. Foto: Joe Skipper/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk. Foto: Joe Skipper/Reuters

Indonesia ditargetkan akan menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik dunia. Industri Tanah Air akan masuk ke komponen bahan baku hingga pembuatan baterai mobil listrik. Bahkan, Menteri BUMN Erick Thohir sampai membangun holding BUMN khusus untuk baterai kendaraan listrik. Di sini terdapat beberapa konsorsium perusahaan pelat merah yang terlibat.

PT Timah Tbk (TINS) mengaku pihaknya belum dapat berkomentar lebih jauh terkait rencana holding BUMN baterai kendaraan listrik, termasuk kontribusi Perseroan. Namun, Direktur Pengembangan Usaha PT Timah, Alwin Albar menjelaskan, setiap produksi baterai mobil listrik yang bakal dilakukan di Indonesia pasti membutuhkan timah. Artinya, PT Timah sebagai produsen timah terbesar di Tanah Air pasti bakal terlibat.

"Kontribusi timah, pasti ada part-nya. Pengantar listrik pakai timah," Kata Alwin dalam diskusi Media Outlook PT Timah di Plataran Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/3).

Seperti diketahui rencana pembentukan holding baterai hingga rencana bos Tesla Elon Musk membangun baterai mobil listrik di Indonesia sempat menjadi sentimen positif ke pergerakan saham BUMN tambang seperti PT Timah. Harga saham PT Timah sempat melonjak hingga Rp 2.400-an pada Januari-Februari 2021 atau naik tajam dari posisi Bulan April 2020 yang sebesar Rp 300-an per lembar.

Terkait rencana Elon Musk, PT Timah menegaskan belum diajak bicara atau dihubungi oleh tim Tesla secara langsung.

"Misal ngomong (tidak langsung) ke kementerian teknis, terus ke Kementerian BUMN. Itu sifatnya baru sebatas pemenuhan (kesanggupan bahan baku)," ungkap Direktur Keuangan PT Iimah, Wibisono.

Direktur Keuangan PT Timah Tbk, Wibisono Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan

PT Timah Cari Teknologi Produksi 'Tanah Jarang' yang Diincar Negara Maju

Timah juga memperoleh penugasan untuk proyek rare earth atau logam tanah jarang. Rare earth merupakan mineral ikutan monasit yang dipecah dari produksi timah.

Hingga saat ini, Timah masih mencari teknologi yang tepat dalam memproduksi rare earth yang sangat dibutuhkan negara maju untuk bahan baku komponen LCD hingga chips tersebut.

"Teknologi belum dapat skala yang tidak besar," ungkap Alwin.

Alwin mengaku PT Timah sempat menjajaki teknologi dari Australia. Namun, teknologi pengolahan rare earth dari Australia tidak bisa diterapkan di Indonesia karena kandungan thorium atau radio aktif dari bahan baku rare earth di Indonesia sangat tinggi.

Meski masih belum menemukan mitra dan teknologi yang tepat, rencana pengembangan rare earth terus berjalan. Perseroan menargetkan bisa memproduksi rare earth pada tahun 2023.