PTBA Pastikan Proyek Gasifikasi Batu Bara DME Mulai Jalan Tahun 2026
·waktu baca 3 menit

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengungkapkan proyek gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME), yang sempat terkatung-katung, akan mulai berjalan pada tahun 2026.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, mengatakan PTBA sudah mulai lebih serius mendorong hilirisasi batu bara, termasuk proyek coal to DME.
"Semoga kalau tidak ada halangan, saya kira tahun depan sudah bisa mulai. Secara teknologi tidak ada isu, secara cadangan tidak ada isu," ungkapnya saat HIPMI–Danantara Business Forum 2025, Senin (20/10).
Turino menyebutkan, PTBA sudah mencadangkan 800 juta ton batu bara khusus untuk proyek-proyek hilirisasi, tidak hanya untuk DME, namun juga diolah menjadi metanol, amonia, pupuk, hingga kalium humat.
Dia juga mengungkapkan, investasi salah satu pabrik DME dengan skala yang besar bisa mencapai USD 2,5 miliar atau setara Rp 40 triliun. Rencananya, ada beberapa pabrik hilirisasi batu bara yang akan diluncurkan PTBA.
"Apa saja yang kita bangun? Ada beberapa, yang skala besar pabrik DME, satu pabrik DME itu kira-kira USD 2,5 miliar sekitar Rp 40 triliun," ungkap Turino.
Ditemui usai acara, Turino menjelaskan total cadangan batu bara perusahaan mencapai 2,9 miliar ton, dan sebanyak 800 juta ton digunakan untuk seluruh proyek hilirisasi batu bara. Khusus untuk DME, cadangan yang diperlukan sebesar 5-6 juta ton per tahun.
Dia menjelaskan, operasional pabrik biasanya mencapai 20 tahun, sementara kebutuhan batu bara masing-masing berkisar antara 5-10 juta ton per tahun, sehingga dalam 20 tahun kebutuhannya mencapai 100 juta ton.
"DME itu cuma perlu 5-6 juta ton per tahun. Berarti 120 juta ton kira-kira," kata Turino.
Pabrik hilirisasi batu bara tersebut akan dibangun di dalam kawasan industri Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) seluas 600 hektare di Sumatera Selatan. Peletakan batu pertama alias groundbreaking akan dilakukan tahun depan.
Namun, Turino menyebutkan ada sedikit masalah keekonomian proyek. Hal ini akan dibahas lebih lanjut bersama Danantara Indonesia, yang saat ini tengah melaksanakan uji kelayakan 18 proyek hilirisasi.
Dari 18 proyek tersebut, dia menyebutkan terdapat 6 proyek coal to DME, meliputi 3 proyek di Kalimantan dan 3 proyek sisanya di Sumatera Selatan. Salah satu proyek di Sumatera Selatan adalah milik PTBA.
"Insyaallah (tahun depan), kalau semua lancar ya. Kami sudah agak mengerucut nih, cadangan sudah ready, tempat sudah ready, teknologi kami sudah ready. Terus kemudian tinggal keekonomian sedikit lagi. Lagi berembuk dengan Danantara," tuturnya.
Turino belum bisa memastikan apakah Danantara akan membantu investasi proyek DME perusahaan. Menurutnya, sejauh ini perusahaan baru menghitung keekonomian secara internal maupun bersama Danantara.
"Ini yang kami lagi duduk, sebetulnya. Keekonomian ini kan bergantung harga batu bara, harga capex investasinya, dan harga jualnya. Ini kami lagi berembuk dengan Danantara," jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, PTBA juga tengah berdiskusi dengan PT Pertamina (Persero) yang akan menjadi pembeli (offtaker) DME. Produk ini disebut bisa menjadi pengganti LPG.
Di sisi lain, saat ditanya terkait kemungkinan investor dari negara lain, terutama China yang digadang-gadang akan masuk menggantikan perusahaan asal AS, Air Supply, yang sempat hengkang dari proyek DME di Indonesia, Turino enggan menjelaskan lebih lanjut.
"Enggak spesifik itu. Tapi menurut lihat pabrik-pabrik di sana yang sudah jalan. Gasifikasi jadi coal to chemical itu bisa macam-macam. Ada DME, ada methanol, ada polypropylene, dan di sana sudah jalan 20-30 tahun lalu. Ya, China sudah duluan menjalankan itu dan sekarang ini kompetitif di industri," jelas Turino.
