Kumparan Logo

PTBA Setor Dividen 90 Persen dari Laba, Terbesar dalam Sejarah BUMN

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proses dumping tambang batubara. Foto: Sigid Kurniawan/Antara
zoom-in-whitePerbesar
Proses dumping tambang batubara. Foto: Sigid Kurniawan/Antara

PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Holding Industri Pertambangan BUMN MIND ID, membagikan dividen Rp 3,65 triliun untuk kinerja 2019. Dividen tersebut setara dengan 90 persen dari perolehan laba bersih sepanjang tahun lalu yang sebesar Rp 4,1 triliun.

Jika dibandingkan 2018, perusahaan membagikan dividen 75 persen dari laba atau sekitar Rp 3,76 triliun. Setoran dividen tahun ini sangat besar di tengah kondisi bisnis perusahaan yang terdampak virus corona.

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan, pembagian dividen kali ini yang terbesar sepanjang sejarah PTBA dan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Adapun keputusan porsi dividen besar tahun ini merupakan keputusan dari pemegang saham tertinggi, yaitu induk perusahaan, PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum.

"Ini adalah domain pemegang saham. Tentu ini terkait kebutuhan pemegang saham dalam hal ini Inalum. Dengan kinerja kita yang cukup baik, maka pembayaran ini tidak akan pengaruhi likuiditas kita dan ekspansi kita," kata dia dalam konferensi pers PTBA secara daring usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2020 untuk kinerja 2019, Rabu (10/6).

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin. Foto: Ela Nurlaela/kumparan

Arviyan menjelaskan, keuangan perusahaan tak akan terganggu meski menyetorkan dividen. Sebab, sebelum dividen tersebut disetorkan, PTBA memiliki uang di kas senilai Rp 8 triliun.

"Kalau sekarang dividen Rp 3,6 triliun, tentu posisi kas kita cukup besar walaupun sudah diserahkan dividen dan kas ini akan terus bertambah," terang dia.

Kata dia, di tengah tren melemahnya harga batu bara, PTBA mampu mencatatkan laba atas kinerja tahun sebesar Rp 4,1 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 6,4 triliun. Perseroan berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan dari Rp 21,2 triliun menjadi Rp 21,8 triliun atau sebesar 3 persen dari tahun sebelumnya.

Pendapatan itu terdiri dari pendapatan penjualan batu bara domestik sebesar 57 persen, penjualan batu bara ekspor sebesar 41 persen, dan aktivitas lainnya sebesar 2 persen yang meliputi penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah dan inti sawit, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.

Pencapaian laba dan pendapatan ini juga didukung oleh kinerja operasional perusahaan yang mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2019, produksi batu bara perseroan mengalami kenaikan 10,2 persen dari tahun sebelumya atau naik menjadi 29,1 juta ton.

Kapasitas angkutan batu bara juga mengalami kenaikan menjadi 24,2 juta ton atau naik 7,0 persen dibandingkan 2018. Kenaikan produksi dan angkutan batu bara ini mendorong pula kenaikan penjualan batu bara.

Sepanjang 2019, Perseroan berhasil menjual batu bara sebesar 27,8 juta ton atau naik 13 persen dari tahun sebelumya. Kenaikan volume penjualan ini karena adanya ekspansi ke pasar-pasar potensial seperti Jepang, Hong Kong, Vietnam, Taiwan, dan Filipina serta keberhasilan dalam menambah pasar-pasar potensial baru seperti Australia, Thailand, Myanmar, dan Kamboja.

"Tak hanya mendorong penjualan ekspor ke negara-negara Asia, Perseroan juga menerapkan penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke premium market," ujarnya.

kumparan post embed

Sepanjang 2019, Perseroan juga meraih sejumlah penghargaan bergengsi di antaranya Best Overall BUMN kategori Big Corporate dalam ajang Anugerah BUMN 2019, Juara 3 Annual Report Award 2019 kategori Private Listed Non Keuangan dan Juara 1 Kategori Perusahaan Pelaksana Pemberdayaan Masyarakat Terbaik BUMN dalam ajang Indonesia Mining Associan Award.

PTBA juga meraih Indonesia Most Trusted Companies dalam Good Corporate Governance Award 2019, dan Juara 1 Bidang Kepatuhan PNBP Mineral dan Batubara kategori Wajib Bayar dengan Kontribusi PNBP Terbesar BUMN dalam Penghargaan Subroto 2019.

Selain itu, tahun lalu, PTBA melakukan penjualan saham treasuri dari pembelian kembali saham periode 2013-2015 sebanyak 649 juta saham yang dilaksanakan dalam beberapa tahap di antaranya penjualan saham treasuri pada 2 April 2019 sebanyak 63,17 juta lembar saham dengan harga Rp 4.220 per lembar saham.

Lalu pada 8 Mei 2019 sebanyak 490,72 juta lembar saham dengan harga Rp 3.400 per lembar saham, dan 4 Desember 2019 sebanyak 96 juta saham dengan harga Rp 2.500 per lembar saham.