Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Urea di Vladivostok, Rusia

PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki peluang investasi pembangunan pabrik pupuk urea di Vladivostok, Rusia. Penjajakan ini ditandai dengan penandatanganan joint study antara Pupuk Indonesia dan pihak terkait Rusia dalam rangka mengkaji potensi investasi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan langkah tersebut menjadi salah satu tindak lanjut konkret dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok pada Kamis (3/9).
“Pada intinya, kami bersama-sama dengan Dirut Pupuk Indonesia baru saja menandatangani joint study untuk melihat potensi dari Pupuk Indonesia berinvestasi di Vladivostok ini untuk pupuk urea,” ujar Rosan dalam keterangannya, dikutip Jumat (4/9).
Rosan menyebut peningkatan performa dan efisiensi Pupuk Indonesia memberikan peluang bagi perusahaan untuk memperluas kegiatan investasinya ke pasar internasional. Menurutnya, kolaborasi dengan Rusia juga berpotensi mendukung penguatan ketahanan bahan baku sekaligus industri nasional.
“Kalau kita lihat dari Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok ini dan dengan pihak Rusia. Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat juga dari sektor ketahanan bahan kita dan juga ketahanan industri kita,” jelas Rosan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan kerja sama dalam bentuk studi bersama tersebut merupakan bagian dari arahan Danantara agar perusahaan dapat meningkatkan perannya dalam menjaga ketahanan nasional sekaligus memperluas jangkauan bisnis ke pasar global.
Ia menilai letak Vladivostok yang berada di kawasan Pasifik menjadi salah satu faktor yang membuat rencana investasi tersebut menarik. Pasalnya, kawasan Pasifik selama ini menjadi salah satu pasar penting bagi Pupuk Indonesia.
“Ini menjadi menarik karena Vladivostok adalah menghadap ke Pasifik, pasar yang selama ini memang menjadi pasar utama Pupuk Indonesia,” tutur Rahmad.
Rusia Tawarkan Kapal Canggih 120 Meter untuk Pengolahan Ikan
Selain membahas investasi di sektor pupuk, pertemuan Indonesia-Rusia juga membuka peluang kerja sama dalam industri perkapalan. Rosan mengatakan Putin menawarkan kapal berteknologi mutakhir dengan panjang lebih dari 102 meter yang dapat digunakan untuk mengolah hasil perikanan secara langsung.
“Presiden Putin juga menawarkan untuk perkapalan yang panjangnya lebih dari 102 meter yang mutakhir, untuk pengolahan langsung ikan-ikan kita sehingga menjadi lebih baik kualitasnya,” ucap Rosan.
Rencana tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan pengiriman tim dari Indonesia untuk mengkaji teknologi kapal yang ditawarkan serta kemungkinan pemanfaatannya bagi kebutuhan nasional.
Di sisi perdagangan, Rosan turut menyinggung rencana ratifikasi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Eurasia. Ratifikasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses perdagangan sekaligus membuka lebih banyak peluang investasi antara Indonesia dan Rusia. Terlebih, nilai perdagangan kedua negara telah tumbuh lebih dari 12 persen pada tahun sebelumnya.
“Jadi momentumnya sangat baik, momentumnya sangat pas sehingga ini memperluas dari segi perdagangan, kerja sama, partnership, investasi terhadap kedua negara,” imbuh Rosan.
