Kumparan Logo

Pupuk Indonesia Mulai Bangun Pabrik Soda Ash Pertama, Putus Ketergantungan Impor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pupuk Indonesia Mulai Pembangunan Pabrik Soda Ash Pertama Indonesia di Pupuk Kaltim, Bontang. Foto: Dok. Pupuk Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Pupuk Indonesia Mulai Pembangunan Pabrik Soda Ash Pertama Indonesia di Pupuk Kaltim, Bontang. Foto: Dok. Pupuk Indonesia

PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) dan PT Rekayasa Industri (Rekind), resmi memulai pembangunan pabrik soda ash pertama di Indonesia. Prosesi groundbreaking berlangsung di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE), Bontang, Kalimantan Timur, Jumat (31/10).

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyebut pembangunan pabrik soda ash menandai tonggak baru dalam perjalanan industri pupuk dan petrokimia nasional.

“Pagi ini kita menyaksikan sebuah tonggak sejarah dari industri nasional, yaitu groundbreaking pabrik soda ash pertama di Indonesia. Pelaksanaannya juga bertepatan dengan momentum satu tahun pemerintahan Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka,” ujar Rahmad dalam keterangan resmi, Sabtu (1/11).

Katanya, pabrik ini bakal memanfaatkan karbon dioksida (CO₂) hasil samping dari fasilitas produksi amonia eksisting untuk menghasilkan soda ash, bahan kimia bernilai tinggi yang digunakan pada industri kaca, deterjen, makanan, pulp dan kertas, serta keramik.

Saat beroperasi penuh, pabrik soda ash ini ditarget memiliki kapasitas produksi 300.000 metrik ton per tahun. Produksi tersebut diperkirakan memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan soda ash nasional yang selama ini sepenuhnya bergantung pada impor.

Keberadaan pabrik juga berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp 1 triliun per tahun dari substitusi impor soda ash, serta Rp 250 miliar dari substitusi impor amonium klorida sebagai produk sampingan.

instagram embed

“Mudah-mudahan mimpi besar bangsa Indonesia untuk lebih mandiri dan memiliki ketahanan industri yang semakin kuat dengan mengurangi impor bisa kita capai. Ini adalah bakti kita untuk Indonesia, berinovasi untuk masa depan,” kata Rahmad.

Direktur Utama Pupuk Kaltim, Gusrizal, menyebut proyek ini menjadi bagian dari transformasi dan diversifikasi usaha menuju portofolio bisnis kimia yang lebih luas, efisien, dan berkelanjutan.

“Proyek ini bagian komitmen Pupuk Kaltim terhadap penerapan prinsip ESG dan ekonomi sirkular, di mana emisi CO₂ dari pabrik eksisting dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku utama produksi soda ash. Kami memastikan seluruh proses pembangunan dijalankan dengan standar keselamatan dan mutu terbaik,” ujar Gusrizal.

Proyek ini juga dinilai mendukung agenda Net Zero Emission (NZE) 2060. Pabrik tersebut diperkirakan dapat menyerap sekitar 174.000 ton CO₂ per tahun untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

Selain itu, amonium klorida sebagai produk sampingan akan dimanfaatkan menjadi bahan baku pupuk yang berperan dalam mendukung swasembada pangan nasional.