Kumparan Logo

Purbaya Bicara Ekonomi RI Tumbuh 5,61%: 3 Tahun Lagi Kita Bisa Kaya Bersama

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (27/3).  Foto: Ave Airiza/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (27/3). Foto: Ave Airiza/kumparan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang menyentuh 5,61 persen secara tahunan tidak diraih begitu saja. Menurutnya, pemerintah sudah menyiapkan langkah yang membuat pertumbuhan bisa mencapai 5,61 persen.

“Tumbuh 5,61 persen itu bukan tiba-tiba terjadi, tapi itu by desain. Mudah-mudahan ke depan kita bisa teruskan itu sehingga kita bisa tumbuh lebih cepat. Ya dua tahun, tiga tahun lagi kita bisa kaya bersama,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (5/5).

“Kita bisa tumbuh 8 persen (pertumbuhan ekonomi) 2-3 tahun lagi, ya kita bisa kaya bersama lah, makan-makan lagi kita,” tambahnya.

BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pada periode yang sama tahun lalu, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen (yoy). Namun, ekonomi Indonesia kuartal I 2026 secara kuartalan terkontraksi 0,77 persen.

BPS juga mencatat konsumsi masyarakat masih terjaga yang terlihat dari pertumbuhan makanan dan minuman dan akomodasi serta barang dan jasa lainnya. Surplus neraca perdagangan tetap berlanjut di tengah ketidakpastian global.

Kepala BPS Amalia Adinggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Selasa (5/5/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Terkait koreksi 0,77 persen secara qtq, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan ada berbagai faktor mulai dari konsumsi pemerintah yang menurun sampai kontraksi di sektor pertambangan.

Amalia menjelaskan konsumsi pemerintah pada akhir tahun memang biasanya merupakan momentum puncak. Jadi, jika dibandingkan kuartal I 2026 yang merupakan awal tahun, maka memang ada penurunan.

“Penyebabnya, tentunya dari sisi pengeluaran, itu konsumsi pemerintah juga mengalami penurunan dibanding Q4 2025 karena itu Q4 2025, karena itu kan di akhir tahun anggaran yang biasanya realisasi anggaran pemerintah itu puncaknya ada di Q4,” kata Amalia dalam rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kantor BPS, Jakarta pada Selasa (5/5).

“Selain itu ada beberapa sektor yang memang kalau memang dibandingkan dibandingkan antara Q1 2026 dengan Q4 2025 itu mengalami kontraksi misalnya sektor pertambangan, batu bara, dan juga migas,” tambahnya.

Amalia mengungkapkan ada kontraksi di sektor pembangunan yang juga menjadi faktor. Ia menjelaskan penyelesaian pembangunan infrastruktur biasanya lebih tinggi saat akhir tahun atau pada Q4.

video story embed