Kumparan Logo

Purbaya: Ekonomi RI Masih Akselerasi, Inverted Yield Bukan Tanda Resesi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menghadiri konferensi pers bulanan mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menghadiri konferensi pers bulanan mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan perekonomian Indonesia sedang menuju resesi di tengah pelemahan rupiah dan koreksi pasar keuangan dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Purbaya, berbagai indikator ekonomi justru menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih tumbuh dan bahkan mengalami percepatan. Ia menilai kekhawatiran sebagian pelaku pasar muncul karena salah membaca sejumlah indikator, termasuk fenomena inverted yield curve yang belakangan menjadi sorotan.

Inverted yield curve adalah kondisi ketika imbal hasil surat utang jangka pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Di banyak negara kondisi ini kerap dianggap sebagai sinyal perlambatan ekonomi atau resesi. Sebab, dalam kondisi normal, obligasi jangka panjang seharusnya memberikan imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko penahanan dana yang lebih lama.

Purbaya menjelaskan, kondisi inverted yield curve di Indonesia berbeda dengan yang biasa terjadi di negara lain. Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut sering dianggap sebagai sinyal perlambatan ekonomi atau resesi karena pasar memperkirakan suku bunga akan turun di masa depan.

Namun, menurut dia, kondisi di Indonesia saat ini dipengaruhi kebijakan Bank Indonesia (BI) yang secara sengaja menjaga instrumen jangka pendek tetap menarik guna menjaga stabilitas nilai tukar dan aliran modal.

Foto udara pembangunan proyek LRT Jakarta Fase 1B Rute Velondrome-Rawamangun di kawasan Pramuka, Matraman, Jakarta, Selasa (22/7/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

“Yang jangka pendek, kan, dinaikin BI sengaja, kan, lewat SRBI, kan, akhirnya inverted. Tapi bukan menggambarkan itu akan resesi karena nggak pure market condition yang menjalankan itu,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (5/6).

Karena itu, ia meminta investor tidak serta-merta menyamakan kondisi Indonesia dengan teori yang berlaku di negara lain tanpa melihat faktor yang melatarbelakanginya.

Purbaya menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026, inflasi yang masih terkendali, hingga aktivitas manufaktur yang mulai kembali masuk zona ekspansi.

Selain itu, sejumlah indikator konsumsi masyarakat dan penyaluran kredit perbankan juga masih menunjukkan tren positif.

Dalam paparannya, Purbaya menyebut pertumbuhan kredit sejumlah bank besar masih berada di level dua digit. Di sisi lain, peredaran uang di perekonomian juga meningkat sehingga dinilai cukup untuk menopang aktivitas ekonomi nasional.

Ia mengaku heran dengan munculnya narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang menuju resesi, padahal berbagai data justru menunjukkan arah sebaliknya.

Pedagang memilah bawang putih pesanan pembeli di Pasar Induk MAJT-MAS, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

“Kenapa ada cerita bahwa kita ekonominya menuju resesi ketika stimulus di ekonomi cukup, uang cukup, dan pertumbuhan kredit juga cukup,” ujarnya.

Purbaya mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi secara berkala untuk memastikan kebijakan yang diambil tetap sesuai kondisi riil di lapangan. Menurut dia, berbagai indikator makro yang ada saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi yang mengarah ke resesi.

Ia juga menegaskan pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menjaga pertumbuhan ekonomi apabila diperlukan.

Di tengah gejolak pasar global, Purbaya memastikan pemerintah akan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan fiskal agar momentum pertumbuhan dapat berlanjut hingga akhir tahun.

“Fondasinya ekonomi kita bagus dan tidak membutuhkan suku bunga yang rendah sekali gara-gara kita memasuki masa resesi.”

Bahkan, ia meyakini ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi.

“Kita masih ekspansi bahkan ekspansinya mengalami akselerasi,” tutur Purbaya.