Purbaya Mau Temui Pengusaha Rokok Bahas Tarif Cukai: Agar Industri Tak Mati
·waktu baca 2 menit

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum memutuskan langkah terkait penyesuaian tarif cukai rokok pada tahun depan. Dia menyebut akan terlebih dahulu berdialog dengan para pelaku industri sebelum mengambil keputusan.
Menurut Purbaya, kebijakan cukai tidak selalu identik dengan kenaikan tarif. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan setiap langkah yang diambil tidak menekan industri rokok dalam negeri.
“Pendapatan cukai (naik di 2026) itu nggak harus tarifnya naik kan. Kita mau ketemu asosiasi rokok, seperti apa langkah yang terbaik untuk cukai rokok ini,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen RI, Selasa (23/9).
Dia menekankan perlindungan terhadap industri lokal menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan kebijakan. Purbaya tak ingin kebijakan pemerintah justru melemahkan pelaku usaha nasional. Sementara produk dari luar negeri, khususnya Tiongkok, semakin membanjiri pasar Indonesia.
“Yang penting adalah kita ingin menjaga, jangan sampai saya mematikan industri rokok domestik. Sementara industri rokok di Cina hidup, gara-gara mereka yang mensuplai kita,” katanya.
Meski begitu, Purbaya mengatakan, sudah memiliki gambaran mengenai arah kebijakan cukai rokok. Namun, ia memilih menunggu hasil pembicaraan dengan asosiasi sebelum mengungkapkan lebih jauh.
“Ada di kepala saya, Anda mau minta bocoran? Jangan, nanti saya biar ketemu dengan mereka dulu, biar mereka janji sama saya apa gitu,” ucapnya.
Pertemuan dengan pengusaha rokok dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Purbaya menyebut komunikasi bisa terjadi dalam sehari atau dua hari ke depan. “Mungkin sehari dua hari ini (ketemu). Mungkin saya telepon besok mungkin,” tambahnya.
Dalam APBN 2026, pemerintah awalnya menetapkan target penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp 334,3 triliun. Target itu kemudian naik Rp1,7 triliun menjadi Rp 336 triliun.
