Purbaya Respons soal Anjloknya IHSG ke Level 5.000-an: Kondisi Ekonominya Bagus
·waktu baca 3 menit

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup anjlok 254,36 poin atau 4,10 persen ke level 5.941,066. Sejalan, indeks LQ45 terkoreksi 4,89 persen dan berakhir di posisi 588,991.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan anjloknya IHSG lebih dari 4 persen pada penutupan perdagangan hari ini salah satunya akibat rumor di pasar.
“Karena banyak isu-isu negatif yang jatuh cuma kita sendiri sama China, yang lain jadi saya pikir banyak rumor di dalam negeri yang pasti ketika S&P datang ke sini, ada rumor S&P akan men-downgrade. Padahal saya baru mau ketemu nanti malam,” ucap Purbaya kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Rabu (3/6).
Purbaya optimistis tren pelemahan IHSG hanya bersifat sementara atau jangka pendek. Sebab, menurutnya fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik.
"Kondisi ekonominya bagus, nggak ada masalah. Dari pendapatan pajak di bulan Mei aja masih kencang gitu," katanya.
Respons Rupiah
Nilai tukar rupiah kembali tertekan mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6). Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 19.17 WIB, rupiah melemah 127,50 poin atau 0,71 persen ke level Rp 17.966 per dolar AS.
Pelemahan rupiah saat ini masih menjadi ranah Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral.
“Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja,” ucap dia.
Meski begitu, Purbaya membuka peluang koordinasi lebih lanjut apabila diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Tapi kalau ada, kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan, sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Tapi kan sekarang itu masih dalam jurisdiksi Bank Sentral kita. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat,” katanya.
Purbaya menjelaskan koordinasi antarotoritas sebenarnya rutin dilakukan setiap bulan melalui rapat tingkat deputi.
“Setiap bulan kita ada rapat deputi kan, setiap bulan mereka diskusi terus, ngasih masukan ke kita. Tapi kan kalau masalah nilai tukar, Bank Sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke Bank Sentral,” ujarnya.
Dia menilai tekanan terhadap rupiah belakangan lebih banyak dipengaruhi sentimen dan rumor negatif yang beredar di pasar.
“Kalau kita lihat kan tiba-tiba aja penguatannya, pelemahannya 1-2 hari ini kan. Karena ada isu macem-macem, ada rumor macem-macem di pasar,” kata Purbaya.
Menurutnya, salah satu rumor yang beredar adalah isu terkait uji ketahanan (stress test) perbankan jika rupiah melemah di atas Rp 18.000 per dolar AS.
“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp 18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif,” beber dia.
Purbaya menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah menjaga fundamental ekonomi nasional agar tetap kuat.
