Kumparan Logo

Purbaya Sebut BSF Bisa Cegah Modal Asing Keluar, Bantu Perkuat Rupiah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah sedang mencoba intervensi pasar sekunder obligasi untuk mencegah arus modal asing keluar atau capital outflow.

Purbaya mengatakan, capital outflow akan menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah semakin signifikan. Intervensi tersebut melalui Bond Stabilization Fund (BSF) untuk membantu peran Bank Indonesia (BI).

“Kita sedang ambil langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market, mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa ngga tapi ke depan akan ada perbaikan,” jelasnya kepada awak media, Rabu (13/5).

Purbaya menilai, BSF akan membuat harga obligasi di Indonesia lebih stabil dan menarik bagi investor. Dia meyakini bahwa nilai tukar rupiah bisa menguat kembali.

“Kita ada masuk ke stabilize bond market kan, kalau bond tidak stabil orang itu menjual, takut capital loss yang keluar juga berkurang, itu hitungan saya. Apalagi kalau bond menguat menguat ada potensi capital gain selain itu mereka biasa dapetnya capital gain,” tuturnya.

Dia juga memastikan kebijakan tersebut melalui komunikasi dengan bank sentral. “Kita akan jaga stabilitas bond market, membantu Bank sentral. Itu kami akan komunikaasi dengan bank sentral juga,” tegas Purbaya.

video story embed

Sebelumnya, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, mengatakan Kemenkeu akan mengaktifkan kembali BSF di saat nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus Rp 17.500 per dolar AS, di tengah tekanan jual yang masif terhadap obligasi di pasar sekunder.

"Tujuannya itu sebagai bantalan di pasar SBN, karena dengan demikian pemerintah bisa melakukan intervensi di pasar sekunder. Melalui instrumen BSF, pemerintah bisa melakukan buyback SBN di pasar sekunder," ungkapnya.

Di sisi lain, Nafan menjelaskan, BSF juga bermanfaat untuk stabilisasi imbal hasil obligasi. Biasanya, kata dia, ketika terjadi aksi jual besar-besaran, harga obligasi akan jatuh yang otomatis imbal hasilnya akan mengalami kenaikan secara signifikan.

Manfaat lainnya yakni mencegah arus modal keluar atau capital outflow dari investor asing. Pasalnya, menurut Nafan, peran pemerintah sangat penting dalam rangka menjaga stabilitas harga obligasi, sehingga BSF dinilai dapat memberikan sinyal kepada investor bahwa aset obligasi tetap aman dan terjaga nilainya.

"Tentunya ini bisa diharapkan menahan terjadinya capital outflow, karena outflow ini merupakan salah satu pemicu daripada pelemahan nilai tukar rupiah," imbuh Nafan.