Purbaya Sentil Direksi Perbankan, Singgung soal Main Golf Akhir Pekan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti perilaku jajaran direksi perbankan yang dinilai terlalu nyaman dengan kondisi likuiditas saat ini. Ia menyindir direksi bank yang selama ini cenderung memilih jalan aman tanpa mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif.
“Pada dasarnya saya suruh mereka berpikir sendiri. Mereka kan orang-orang pintar. Cuma selama ini males karena bisa naruh di tempat yang aman, nggak ngapain-ngapain, dapat spread cukup, untung yang gede. Jadi mereka setiap Sabtu Minggu main golf kali,” kata Purbaya di Kantor Pusat DJP, Selasa (16/9).
Purbaya menegaskan, penempatan dana Rp 200 triliun di himbara dimaksudkan untuk menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi. Dengan likuiditas yang lebih longgar, bank seharusnya lebih aktif mencari proyek pembiayaan yang aman sekaligus produktif.
Menurutnya, mekanisme pasar akan memaksa bank bersaing menyalurkan kredit sehingga pada akhirnya suku bunga pinjaman bisa turun.
“Sekarang dengan uang itu mereka berpikir. Dan harusnya market base ya. Mereka akan mencari proyek-proyek yang memberikan return paling tinggi dan yang paling aman dulu. Itu akan menimbulkan kompetensi di antara bank-bank tadi. Itu akan menekan suku bunga ke bawah pinjaman,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dana yang ditempatkan pemerintah di perbankan bukanlah pinjaman atau subsidi, melainkan bagian dari strategi kebijakan moneter untuk menggerakkan roda ekonomi. Dana tersebut, lanjutnya, dipindahkan dari Bank Indonesia (BI) agar bisa lebih produktif ketika ditempatkan di bank umum.
“Orang bilang kan, oh kalau gitu defisitnya apa? Membesar? Enggak, itu tadinya taruh di BI, saya pindah ke situ (perbankan) aja. Habis itu sistem dipaksa motor. Itulah keajaiban daripada monetary policy,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purbaya menepis anggapan bahwa kebijakan injeksi dana otomatis menimbulkan inflasi. Ia menekankan, selama ekonomi masih lesu, tambahan dana justru akan terserap oleh sistem tanpa menimbulkan gejolak harga. Inflasi baru mungkin terjadi jika pertumbuhan ekonomi menembus level tinggi.
“Sebagian orang bilang kalau uang di-inject sistem akan menimbulkan inflasi. Iya mungkin kalau jangka panjang dan uangnya kebanyakan. Ini kan kita kemarin lesu ekonominya dengan adanya itu pasti akan diserap sistem,” ungkapnya.
Purbaya optimistis dampak kebijakan ini akan cepat terlihat. Berdasarkan pengalaman tahun 2021, pemulihan penyaluran kredit dapat terjadi hanya dalam hitungan bulan. Ia memperkirakan dalam waktu tidak lama ekonomi domestik akan kembali bergairah.
Di sisi lain, Purbaya juga menekankan bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi akan berdampak positif pada penerimaan pajak negara. Ia memperkirakan setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 persen dapat menambah penerimaan pajak hingga Rp 100 triliun lebih.
“Jadi saya taruh bibit uang di bank dengan harapan ekonomi jalan supaya pada akhirnya pajak saya, pendapatan pajak saya naik. Bukan dengan intensifikasi, tapi ekstensifikasi, tapi karena ekonomi yang tumbuh lebih cepat,” kata Purbaya.
