Kumparan Logo

Purbaya Soroti Surplus Anggaran Pemda Masih Mengendap, Bojonegoro Capai Rp 3 T

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/9/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/9/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti masih banyaknya pemerintah daerah (pemda) yang menutup tahun anggaran dengan dana besar yang tidak terserap. Menurutnya, uang itu justru mengendap di kas daerah tanpa memberi dampak ekonomi.

Purbaya menyinggung langsung Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang disebut memiliki sisa anggaran triliunan rupiah di akhir tahun.

“Sebelum saya ngomong, saya tanya dulu ya Pak ya. Itu kalau anggaran daerah boleh defisit atau surplus apa enggak? Atau harus balance setiap tahun?” kata Purbaya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Kemendagri, Jakpus pada Senin (20/10).

Menjawab hal itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan bahwa daerah umumnya diarahkan untuk memiliki surplus agar ada cadangan dana dan menghindari defisit.

“Umumnya Pak, mereka harus surplus Pak targetnya supaya ada cadangan. Dan kemudian kalau seandainya mereka defisit, maka kalau enggak harus ngambil dari SILPA Pak, atau utang Pak,” ujar Tito.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) dan Mendagri Tito Karnavian (kanan) usai rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah di kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (20/10/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Ia menambahkan, sejumlah daerah juga meminjam dana dari Kementerian Keuangan lewat PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), BUMN di bidang infrastruktur. “Target semuanya kita harapkan surplus supaya pendapatannya lebih banyak daripada belanja,” tambahnya.

Purbaya kemudian bertanya apakah dana surplus tersebut bisa ditarik oleh pemerintah pusat. “Kalau surplus uangnya boleh kita ambil enggak?” ucapnya.

Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, Askolani, mengatakan dana itu dapat disimpan sebagai simpanan daerah dalam batas tertentu. Namun, pemerintah pusat mengingatkan agar anggaran tersebut segera dimanfaatkan untuk belanja produktif di awal tahun anggaran.

Tak berhenti di situ, Purbaya kembali menyinggung Bojonegoro. “Kalau Bojonegoro lebih dari Rp 3 triliun tidak terpakai di akhir tahun, mau diapain?” tanyanya.

“Kita dorong supaya bisa digunakan tahun depan Pak di awal tahun-tahun,” jawab Askolani.

“Kalau tetap enggak bisa ngapain?” tanya Purbaya lagi. Tito mencoba menjelaskan lebih lanjut, namun Purbaya memotong. Ia menegaskan alasannya menyoroti Bojonegoro karena daerah tersebut memiliki potensi besar dari sektor minyak yang dikelola ExxonMobil.

“Jadi tujuannya (surplus anggaran) bukan untuk menabung, tapi meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” tegas Purbaya.