Purbaya Tegaskan Rupiah Melemah Belum Hambat Ekonomi RI: Anggaran Masih Aman
·waktu baca 3 menit

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum mengganggu kondisi perekonomian nasional. Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi pergerakan kurs dalam penyusunan APBN, sehingga kondisi fiskal masih tetap terjaga.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen di level Rp 17.881 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (29/5).
Purbaya mengatakan fokus pemerintah saat ini bukan semata-mata pada pergerakan nilai tukar, melainkan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap kuat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Ia menilai fundamental ekonomi yang solid akan menjadi faktor utama yang menopang penguatan rupiah ke depan.
“Dari sisi anggaran, kami sudah memperhitungkan depresiasi rupiah hingga mendekati level saat ini. Jadi, anggaran negara masih dalam kondisi aman meskipun rupiah melemah ke posisi sekarang,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Minggu (31/5).
Purbaya menjelaskan secara teori mata uang suatu negara akan mengikuti kekuatan perekonomiannya. Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global.
Purbaya menilai investor, baik foreign direct investment maupun investor portofolio, cenderung menempatkan dananya di negara yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi menjanjikan. Dengan kondisi tersebut, aliran modal yang masuk pada akhirnya dapat mendukung penguatan rupiah.
Ia menekankan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain. Bahkan, kata Purbaya, di antara negara-negara anggota G20, Indonesia berada di posisi kedua setelah India dari sisi laju pertumbuhan ekonomi.
“Prospek ekonomi Indonesia kuat dan pelemahan rupiah sejauh ini belum menimbulkan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi,” katanya.
Selain faktor domestik, Purbaya juga menyoroti perkembangan geopolitik global yang dinilai berpotensi membaik dalam waktu dekat. Ia mengacu pada sejumlah laporan media internasional yang menyebut adanya peluang tercapainya kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Dengan potensi membaiknya situasi global tersebut, tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah, diperkirakan akan berkurang dalam beberapa bulan mendatang.
“Saya meyakini dalam dua hingga tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik dibandingkan saat ini. Artinya, faktor-faktor yang dalam beberapa waktu terakhir turut menekan rupiah kemungkinan akan mereda,” ujar Purbaya.
Di sisi lain, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendukung intervensi di pasar obligasi guna menahan kenaikan imbal hasil atau yield surat utang negara.
Menurut Purbaya, upaya tersebut bertujuan menjaga investor yang saat ini memegang obligasi domestik agar tidak mengalami kerugian modal atau capital loss akibat lonjakan yield yang terlalu tinggi.
“Dalam jangka pendek, kami berupaya mendukung bank sentral dengan melakukan intervensi di pasar obligasi agar imbal hasil (yield) tidak naik terlalu tajam,” katanya.
Ia menjelaskan, stabilitas pasar obligasi juga penting untuk mengurangi dorongan bagi investor asing menarik dananya dari Indonesia.
“Pada dasarnya, kami membangun koordinasi yang erat dengan bank sentral guna memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil,” ujar Purbaya.
Purbaya optimistis kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, membaiknya kondisi global, serta sinergi kebijakan dengan Bank Indonesia akan membantu memulihkan kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah.
