Raksasa Migas Asing Minat Kembali Investasi di RI, Ini Faktornya
ยทwaktu baca 4 menit

Industri hulu migas Indonesia kembali diminati perusahaan raksasa (super major company), seperti Shell, Chevron, hingga TotalEnergies, yang sebelumnya hengkang melepaskan portofolionya di Tanah Air.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Eksplorasi dan Peningkatan Produksi Migas, Nanang Abdul Manaf, mengatakan terdapat beberapa faktor perusahaan migas kelas kakap berminat masuk lagi ke Indonesia.
Pertama, Nanang menyebutkan perusahaan asing biasanya melihat prospek cadangan migas yang ada di suatu negara. Dalam beberapa waktu ke belakang, penemuan cadangan migas di Indonesia memang terlihat masif.
"Super major company itu tertarik ke suatu negara pertama karena prospectivity. Ada tidak kemungkinan dapat sesuatu yang besar, kalau investasi di negara tertentu misalnya di Indonesia," jelasnya saat ditemui di sela-sela IPA Convex 2025, Kamis (22/5).
Menurutnya, prospektivitas industri hulu migas ini harus didukung dengan penyediaan data yang baik. Selain itu, cepat atau tidaknya sebuah penemuan cadangan dikembangkan juga menentukan ketertarikan investor.
"Dalam dua tahun terakhir ini kan ada temuan di Andaman, ada di Kalimantan Timur, dan sebagainya. Proyek-proyek besar juga mulai dikerjakan. Itu juga tanda-tanda bahwa Indonesia punya prospectivity yang sangat bagus untuk bisa menemukan giant discovery," tutur Nanang.
Faktor selanjutnya, kata Nanang, adalah kebijakan fiskal yang menarik bagi investor. Saat ini pemerintah Indonesia sudah memperkenalkan skema gross split yang baru, di mana kontraktor bisa mendapatkan bagi hasil di atas 50 persen untuk area yang berisiko.
"Artinya kita sudah mulai memberikan karpet merah buat perusahaan-perusahaan internasional untuk datang ke Indonesia. Insentif ya kalau misalnya sudah ada penemuan, dihitung ternyata ekonomis," kata Nanang.
Bakal Mulai Ikut Lelang Blok Migas
Nanang mengakui sudah mulai terinfo terkait minatnya perusahaan migas asing kembali berinvestasi di Indonesia. Mereka, kata dia, sudah menunjukkan intensinya kepada pemerintah.
Meski begitu, dia tidak menjelaskan apakah ada area tertentu yang dibidik oleh raksasa migas tersebut. Pemerintah saat ini membuka selebar-lebarnya kesempatan eksplorasi, baik itu di Indonesia bagian timur maupun barat.
Dia berharap perusahaan-perusahaan tersebut bisa mengikuti lelang penawaran blok migas di tahun ini agar segera mendapatkan temuan migas jumbo untuk menambah portofolio yang sudah tersebar di seluruh dunia.
"Mereka itu kan kelasnya super major company, Chevron, kemudian Total, Shell, mereka tentunya ingin mendapatkan giant discovery, karena mereka kan beradu portofolionya," ungkap Nanang.
"Jadi kalau prospeknya kecil, ya mereka akan kalah dengan portofolionya di negara lain. Makanya mereka mencoba mencari kira-kira di mana bisa mendapatkan giant discovery. Itu yang mereka sekarang lagi lakukan," tambahnya.
Sebelumnya, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan Chevron, TotalEnergies, hingga Shell sudah berkomitmen untuk kembali ke industri hulu migas Indonesia.
"Chevron lagi sudah komit untuk datang dan lihat mana yang besar-besar. Shell juga Alhamdulillah, keren kan," ungkapnya saat ditemui di sela-sela IPA Convex 2025, Selasa (20/5).
Chevron sebelumnya memiliki beberapa portofolio jumbo di hulu migas di Indonesia, mulai dari Blok Rokan yang sudah diambil alih PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sejak tahun 2018, hingga proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) pada tahun 2020 yang kini dikelola oleh perusahaan migas asal Italia, ENI.
Sementara itu, Shell memutuskan untuk melepaskan 35 persen hak partisipasi di Blok Masela. Saat itu, Shell bermitra dengan migas asal Jepang, Inpex Corporation, yang merupakan pemegang hak partisipasi terbesar. Hak partisipasi Shell resmi diambil Pertamina dan Petronas pada tahun 2023 lalu.
Kemudian TotalEnergies sempat berinvestasi di hulu migas Indonesia, salah satunya di Blok Mahakam yang saat ini digarap PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Perusahaan asal Prancis itu hengkang dari Blok Mahakam pada tahun 2018.
Adapun TotalEnergies dikabarkan akan bergabung dengan Petronas dalam konsorsium Wilayah Kerja (WK) atau Blok Bobara yang terletak di Provinsi Papua Barat.
Djoko mengatakan, alasan perusahaan migas kakap tersebut kembali ke Indonesia karena membaiknya iklim investasi hulu migas nasional, dengan berbagai perbaikan birokrasi.
"Kita menyediakan data yang lebih baik, kita punya teknologi untuk evaluasi, menyambungkan konektivitasnya bagus, kita juga sudah mulai ada regulasi untuk open data, teknologi maju-maju, dan mereka juga punya alat untuk melihat itu sehingga mereka tertarik," jelasnya.
