Kumparan Logo

Ramai Kol 5 di BI Checking, BI Pede Pertumbuhan Kredit 2023 Capai 11 Persen

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan Agustus 2023, Kamis (24/8/2023). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan Agustus 2023, Kamis (24/8/2023). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan kredit perbankan di tahun ini bisa menembus double digit, lebih tepatnya 9-11 persen. Optimisme ini masih terjaga di tengah ramai soal skor kredit macet (Kolekttibilitas 5/Kol 5) perorangan di BI Checking atau yang saat ini bernama SLIK OJK, memengaruhi keberhasilan rekrutmen pekerjaan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung mengatakan pertumbuhan kredit pada Juli 2023 mencapai 8,45 persen, membaik dari realisasi pada Juni 2023 sebesar 7,76 persen.

Juda menuturkan, berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB) terbaru pada Juni 2023 kemarin, perbankan terlihat semakin optimistis terhadap proyeksi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini.

"Dari yang sebelumnya rata-rata pertumbuhan dari RBB di awal tahun 10,36 persen, sekarang ini bulan Juni direvisi ke atas 11,31 persen, artinya perbankan lebih optimis," ujarnya saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (24/8).

instagram embed

Kemudian, lanjut Juda, likuiditas perbankan pada Juli 2023 juga masih tinggi, dipengaruhi oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 6,62 persen (yoy). Hal ini dinilai dapat mendorong perbankan optimistis dan terus menggelontorkan kredit.

"Melihat standing standard-nya juga masih longgar dari sisi suku bunga, persyaratan-persyaratan kredit yang disalurkan bank itu masih longgar," tuturnya.

Selain itu, dari sisi permintaan kredit juga masih terus meningkat di tengah perbaikan ekonomi nasional. Juda memperkirakan korporasi terutama sektor ritel masih berkontribusi besar terhadap pertumbuhan kredit.

Juda menambahkan, BI juga akan mengeluarkan kebijakan insentif makroprudensial yang bulan lalu sudah diumumkan ada tambahan likuiditas sebesar Rp 47,9 triliun.

"Dengan berbagai faktor tadi, kami optimis outlook pertumbuhan kredit yang disampaikan BI sebesar 9-11 persen masih tetap valid," pungkasnya.

Sebelumnya, BI Checking viral di Twitter karena ada lima orang yang baru lulus kuliah (fresh graduate) tidak lolos dalam seleksi sebuah perusahaan bank karena memiliki skor kredit di level 5 atau Kolektibilitas 5 (Kol 5). Dalam SLIK OJK, Kol 5 merupakan skor paling buncit alias bahaya. Indikasinya, si pelamar punya tunggakan utang dalam level bahaya.

Cuitan tersebut viral. Dalam wawancaranya dengan kumparan, pemilik akun bernama Putri (bukan nama sebenarnya), mengatakan lima orang yang tidak lulus itu karena terjerat utang di pinjaman online (pinjol).

"Terjerat di pinjol, alasannya untuk biaya hidup di luar kota sewaktu masih merantau jadi mahasiswa, dan memang di SLIK OJK nya tertera nama-nama bank pinjaman onlinenya kak," tutur Putri.