Kumparan Logo

Ramai Larangan Ekspor Batu Bara, Ini Deretan Konglomerat Emas Hitam

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi batu bara Foto: Kurtdeiner/pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi batu bara Foto: Kurtdeiner/pixabay

Pemerintah melarang ekspor batu bara per 1 Januari 2022 sampai 31 Januari 2022. Hal itu diumumkan Ditjen Minerba Kementerian ESDM kepada semua perusahaan tambang batu bara melalui surat pada 31 Desember 2021.

Kebijakan ini ditempuh demi memenuhi pasokan batu bara untuk pembangkit listrik di dalam negeri. Menurut Kementerian ESDM, kurangnya pasokan batu bara bakal berdampak pada lebih dari 10 juta pelanggan PT PLN (Persero). Baik itu masyarakat umum, hingga industri di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan luar Jamali.

Batu bara alias merupakan salah satu komoditas utama ekspor Indonesia. 'Emas hitam' ini adalah sumber kekayaan bagi banyak konglomerat di Indonesia. Berdasarkan penelusuran kumparan dari data RTI dan Forbes, berikut beberapa konglomerat yang memiliki bisnis batu bara:

Keluarga Bakrie (PT Bumi Resources Tbk)

Pemegang saham pengendali Bumi Resources adalah Long Haul Holdings Ltd yang memiliki 3,08 miliar lembar saham (4,14 persen). Perusahaan tersebut terafiliasi dengan keluarga Bakrie. Saat ini manajemen Bumi Resources dipimpin oleh Adika Nuraga Bakrie.

Adika Nuraga Bakrie. Foto: BUMI

Anak usaha Bumi Resources, PT Kaltim Prima Coal (KPC), adalah produsen batu bara terbesar di Indonesia. PT Arutmin Indonesia, anak usaha Bumi Resources lainnya, juga masuk dalam 10 besar produsen batu bara di Indonesia.

Garibaldi Thohir, TP Rachmat, Edwin Soeryadjaya, Arini Subianto (PT Adaro Energy Tbk)

Garibaldi Thohir, kakak Erick Thohir, tercatat memiliki 6,18 persen saham Adaro. Boy Thohir juga merupakan Presiden Direktur Adaro. Selain itu ada nama Theodore Permadi Rachmat (2,54 persen), Arini Subianto (0,25 persen), dan Edwin Soeryadjaya (3,29 persen) di jajaran komisaris sekaligus pemegang saham.

Presiden direktur Adaro energy Garibaldi Thohir Foto: Fitra Andrianto/kumparan

PT Adaro Indonesia yang merupakan anak usaha Adaro Energy adalah produsen batu bara terbesar ke-2 di Indonesia.

Nama Boy Thohir, TP Rachmat, Edwin Soeryadjaya, dan Arini Subianto masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia (Indonesia's 50 Richest) pada 2021 yang dirilis Forbes akhir tahun lalu. TP Rachmat yang menurut hitungan Forbes memiliki harta USD 2,84 miliar atau setara dengan Rp 40,61 triliun (kurs dolar Rp 14.300) duduk di peringkat 15.

Sedangkan Boy Thohir berada di peringkat 17 dengan kekayaan USD 2,6 miliar atau Rp 37,18 triliun. Lalu Edwin di peringkat 29 dengan kekayaan USD 1,51 miliar (Rp 21,59 triliun) dan Arini di peringkat 44 dengan total aset USD 975 juta (Rp 13,94 triliun).

Arini Subianto, wanita terkaya di Indonesia. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Agus Lasmono hingga Arsjad Rasjid (PT Indika Energy Tbk)

Dalam daftar pemegang saham Indika, ada nama Agus Lasmono yang memiliki 10,156 juta lembar saham (0,19 persen). Ia merupakan pendiri dan pemilik Indika Energy. Selain itu ada juga Arsjad Rasjid, Direktur Utama Indika Energy yang juga Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, yang memiliki 1,208 juta lembar saham (0,02 persen).

Arsjad Rasjid, Ketua Umum Kadin. Foto: Dok. Istimewa

Mayoritas saham Indika dimiliki oleh PT Indika Inti Investindo yang memegang 1,968 miliar lembar saham (37,79 persen).

PT Kideco Jaya Agung, anak usaha Indika Energy, merupakan produsen batu bara terbesar ke-3 di Indonesia.

Keluarga Barki (PT Harum Energy Tbk)

Keluarga konglomerat Kiki Barki, melalui PT Karunia Bara Perkasa, memegang 77,85 persen saham PT Harum Energy Tbk. PT Karunia Bara Perkasa merupakan pemegang saham pengendali Harum Energy. Lawrence Barki duduk sebagai Komisaris Utama Harum Energy.

Low Tuck Kwong (PT Bayan Resources Tbk)

Low Tuck Kwong, pria kelahiran Singapura yang dikenal sebagai 'raja batu bara', adalah pendiri Bayan Resources. Ia tercatat memiliki 55,17 persen saham Bayan Resources sekaligus menjadi pemegang saham pengendali. Di jajaran komisaris Bayan Resources, ada mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang duduk sebagai Komisaris Utama.

Dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia pada 2021 versi Forbes, Low Tuck Kwong berada di peringkat 18 dengan kekayaan senilai USD 2,55 miliar atau setara dengan Rp 36,46 triliun.