Realisasi Belanja Subsidi Energi Jebol di Tahun 2017

Realisasi belanja anggaran subsidi energi sepanjang tahun 2017 tercatat melebihi pagu yang ditetapkan pemerintah. Dalam APBN Perubahan 2017, belanja subsidi energi dipatok Rp 89,9 triliun, namun realisasinya mencapai Rp 97,6 triliun.
Subsidi energi tersebut terdiri dari subsidi BBM dan elpiji sebesar Rp 47 triliun atau 105,7% dari target dan subsidi listrik sebesar Rp 50,6 triliun atau 111,5% dari target.
"Subsidi energi lebih tinggi dari APBN-P 2017, kami bayar ke PLN sebesar Rp 50,6 triliun, menurun dibandingkan Rp 2016," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (2/1).
Secara keseluruhan, realisasi subsidi energi dan nonenergi pada tahun 2017 sebesar Rp 166,3 triliun atau 98,5% dari target dalam APBN-P yang sebesar Rp 168,9 triliun.
Untuk realisasi subsidi nonenergi selama tahun lalu, jumlahnya mencapai Rp 68,6 triliun. Angka ini mencapai 86,9% atau lebih rendah dibandingkan pagu sebesar Rp 79 triliun.
Subsidi nonenergi tersebut terdiri dari subsidi pangan sebesar Rp 19,5 triliun atau 98,6% dari target yang sebesar Rp 19,8 triliun. Selain itu, realisasi subsidi pupuk sebesar Rp 28,8 triliun atau 92,6% dari target.
Sedangkan subsidi benih sebesar Rp 800 miliar atau 59,2% dari target; public srvice obligation (PSO) Rp 4,3 triliun atau 99,8% dari target; subsidi bunga kredit sebesar Rp 6,1 triliun atau 47,1% dari target, dan subsidi pajak sebesar Rp 9,1 triliun dari 96,4% dari target.
"Subsidi pangan lebih rendah dari 2016. Belanja benih naik, tapi ini pun hanya 59%, subsidi pupuk dari Rp 31,2 triliun, kami sudah bayarkan Rp 28,8 triliun, bunga kredit hanya Rp 6 triliun," jelasnya.
Direktur Penyusunan APBN Kementerian Keuangan Kunta Wibawa mengatakan, rendahnya realisasi subsidi tersebut karena subsidi pangan yang bergeser ke bansos.
"Karena kan pangan banyak yang digeser ke bansos, kalau dua-duanya digabung lebih tinggi. Ini kan subsidinya sebagian sudah digeser," katanya.
