Kumparan Logo

Realisasi Energi Terbarukan di RI Masih Rendah, Baru 11,2 Persen dari Target

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja melakukan perawatan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik Hotel Santika Premiere Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (7/7/2021). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja melakukan perawatan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik Hotel Santika Premiere Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (7/7/2021). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Pemerintah sedang berupaya meningkatkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) atau energi terbarukan. Penerapan EBT di tahun 2023 ditargetkan bisa mencapai 23 persen.

Namun, target tersebut masih jauh untuk dicapai. Direktur Aneka Energi Baru Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Chrisnawan Anditya, mengungkapkan di 2020 penggunaan EBT baru mencapai 11,2 persen.

“Bauran energi nasional kita saat ini di tahun 2020 baru mencapai 11,2 persen untuk EBT. Sedangkan target yang harus dicapai 23 persen pada tahun 2025. Sehingga tentu pemanfaatan EBT masih sangat rendah,” kata Chrisnawan saat webinar yang digelar E2S, Kamis (26/8).

Pengelolaan panas bumi nasional oleh PT Pertamina Geothermal Energy. Foto: Dok. Pertamina

Chrisnawan mengakui potensi EBT di Indonesia cukup besar. Ia memastikan pemerintah bakal memaksimalkan semua potensi EBT dengan memperhatikan teknologi dan perkembangan penggunaan energi tertentu.

“Yang penting juga dari competitiveness-nya teknologi tersebut. Jadi kalau dilihat energi surya memang besar, tapi utilisasinya untuk saat ini masih kecil,” ujar Chrisnawan.

Chrisnawan mengungkapkan pihaknya juga sudah memfinalisasikan pemutakhiran besarnya potensi EBT di Indonesia. Ia menuturkan Presiden Jokowi juga mendorong percepatan pengembangan EBT.

“Kenapa pemerintah mendorong mempercepat pengembangan EBT di Indonesia? Ini juga mengikuti arahan dari presiden yang dalam beberapa kesempatan menyampaikan agar Indonesia bisa menuju ke green economy dan green industry dapat menghasilkan green product,” tutur Chrisnawan.