Realisasi Investasi AS di RI Sudah Capai Rp 259,9 T sampai Semester I 2025

US ASEAN Business Council (USABC) mencatat realisasi investasi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) telah mencapai USD Rp 259,9 triliun atau setara USD 14,85 miliar. Angka tersebut merupakan capaian sejak 2020 sampai semester I 2025.
Strategic Communications Lead US-ASEAN Business Council, Wanda Firmansyah, lebih detail menjelaskan komitmen investasi perusahaan AS juga sudah mencatat komitmen investasi secara keseluruhan mencapai Rp 399,7 triliun atau setara USD 22,84 miliar. Angka tersebut merupakan capaian 2020 sampai Januari 2026.
“Saya ingin menyampaikan bahwa kami melihat inovasi ini mempunyai prospek yang besar. Indonesia sangat membutuhkan inovasi, bukan hanya sekadar investasi atau FDI, tetapi juga investasi dalam bentuk inovasi,” kata Wanda dalam Peluncuran Laporan BISA 2026 di The Westin, Jakarta pada Rabu (16/9).
Dalam kesempatan yang sama, Chargé d’Affaires ad interim U.S. Mission to Indonesia, CDA Joy M. Sakurai, juga menjelaskan bahwa investasi-investasi perusahaan AS di indonesia selama ini sudah berkontribusi terhadap kemakmuran Indonesia. Hal itu disalurkan lewat modal, kemitraan, ToT sampai pengembangan tenaga kerja.
Menurutnya, investasi memang seharusnya bukan hanya membawa produk AS ke Indonesia melainkan juga harus berdampak pada masyarakat.
“Investasi yang dilakukan memiliki cakupan yang sangat luas. Bukan sekadar membawa produk-produk Amerika Serikat ke Indonesia, tetapi juga membawa teknologi dan inovasi Amerika Serikat serta melatih masyarakat Indonesia untuk membantu menerapkan teknologi tersebut,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia melihat dengan capaian investasi tersebut terlihat bahwa Indonesia memang penting bagi AS. Bahkan, ia lebih jauh memandang Indonesia tak hanya sebagai mitra AS tapi juga mitra kawasan khususnya di balam sektor digital dan manufaktur.
“Di bidang digital dan manufaktur, kontribusi tersebut semakin menunjukkan betapa pentingnya Indonesia sebagai mitra, bukan hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi kawasan. Kedua negara kita merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga dan keempat di dunia. Kita juga termasuk negara demokrasi terbesar di dunia,” kata Joy.
Adapun baik AS maupun Indonesia, Joy melihat adanya kesamaan yakni kondisi masyarakat yang beragam. Untuk itu, investasi juga harus disertai dengan inovas yang optimal.
“Kedua negara terdiri dari masyarakat dan kelompok yang beragam, dengan berbagai latar belakang agama. Semua keberagaman tersebut membutuhkan pemanfaatan teknologi dan inovasi secara optimal untuk menyatukan masyarakat,” ujarnya.
