Rekor Baru Utang Global Tembus USD 353 T, Investor Mulai Jauhi Surat Utang AS
ยทwaktu baca 2 menit

Total utang global mencatatkan rekor tertinggi baru dengan menyentuh angka hampir USD 353 triliun pada akhir Maret 2026, berdasarkan laporan terbaru dari Institute of International Finance atau IIF yang dirilis pada Rabu 6 Mei 2026.
Mengutip Reuters, mulai terlihat indikasi bahwa para investor sedang melakukan diversifikasi aset dengan menjauh dari surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasuries.
"Laporan Global Debt Monitor kuartalan dari IIF menyebutkan bahwa terdapat penguatan permintaan internasional untuk obligasi pemerintah Jepang dan Eropa," tulis Reuters seperti yang dikutip kumparan, Kamis (7/5).
Kondisi ini berbanding terbalik dengan permintaan surat utang Amerika Serikat yang cenderung stabil namun mulai ditinggalkan oleh sebagian investor internasional sejak awal tahun ini.
Direktur IIF untuk Pasar Global dan Kebijakan, Emre Tiftik, menjelaskan bahwa pergerakan ini menonjolkan adanya upaya nyata dari investor internasional untuk mencari alternatif di luar pasar keuangan Amerika Serikat.
Meskipun pasar surat utang Amerika Serikat senilai USD 30 triliun tidak menghadapi risiko dalam waktu dekat, proyeksi jangka panjang menunjukkan bahwa utang pemerintah tersebut berada pada jalur yang tidak berkelanjutan.
Di sisi lain, rasio utang di zona euro dan Jepang justru mulai menunjukkan penurunan tipis.
Peningkatan utang global sebesar lebih dari USD 4,4 triliun pada kuartal pertama 2026 merupakan kenaikan tercepat yang tercatat sejak pertengahan tahun 2025.
"Faktor utama pendorong kenaikan ini adalah aktivitas pinjaman pemerintah Amerika Serikat serta akselerasi utang yang tajam dari perusahaan korporasi non finansial di China, terutama perusahaan milik negara," tulis laporan IFF.
Di luar dua ekonomi terbesar dunia tersebut, utang di pasar negara maju cenderung menurun. Sementara itu, pasar negara berkembang di luar China melihat level utang mereka meningkat ke rekor USD 36,8 triliun yang didorong oleh pinjaman pemerintah.
Secara keseluruhan, peningkatan utang paling signifikan tercatat di Norwegia, Kuwait, China, Bahrain, dan Arab Saudi dengan kenaikan lebih dari 30 poin persentase terhadap Produk Domestik Bruto masing masing negara.
IIF memprediksi bahwa tekanan struktural seperti penuaan populasi, peningkatan belanja pertahanan, keamanan energi, serta belanja modal terkait kecerdasan buatan atau AI akan terus mendorong tingkat utang pemerintah dan korporasi dalam jangka menengah hingga panjang.
Emre Tiftik menambahkan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini diperkirakan akan semakin memperparah tekanan tekanan ekonomi tersebut ke depannya.
