Rekor! Laba Inti Adaro Energy Tembus Rp 46,12 Triliun di 2022, Naik 140 Persen

3 Maret 2023 10:28
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
The CEO, Boy Thohir. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
The CEO, Boy Thohir. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Perusahaan batu bara PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan laba inti sebesar USD 3,01 miliar atau sekitar Rp 46,12 triliun (Rp 15.308,5 per dolar AS) sepanjang 2022. Pencapaian itu naik 140 persen secara tahunan atau year on year dari laba 2021 yang sebesar USD 1,25 miliar.
Pencapaian itu juga menjadi rekor profitabilitas perusahaan yang ditopang oleh kenaikan volume penjualan dan harga batu bara yang masih tinggi.
Sehingga EBITDA operasional Adaro Energy melonjak 139 persen (yoy) selama 2022 menjadi USD 5,03 miliar. Volume penjualan juga naik 19 persen di tahun lalu menjadi 61,34 juta ton.
Presiden Direktur dan CEO Adaro, Garibaldi Thohir. atau Boy Thohir mengatakan, perusahaan sukses mencatat rekor kinerja tertinggi dengan pendapatan naik lebih dua kali lipat menjadi USD 8,1 miliar berkat operasi yang baik dan efisien.
“Serta dukungan dari kenaikan harga jual untuk produk-produk kami. Ini akan mendukung kami dalam mempercepat proyek-proyek transformasi dan membangun Adaro yang lebih besar dan lebih ramah lingkungan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/3).
Adaro juga mencatat, faktor cuaca, kendala suplai dan peristiwa geopolitik menyebabkan harga bertahan pada level yang tinggi dan dengan demikian mendukung kenaikan harga rata-rata (ASP) secara tahunan bagi perusahaan.

Targetkan Penjualan Batu Bara 62-64 Juta Ton di 2023

Untuk tahun ini, volume penjualan batu bara Adaro Energy telah ditetapkan sebesar 62 juta ton sampai 64 juta ton, yang terdiri dari 58 juta ton sampai 60 juta ton batu bara termal dan 3,8 juta ton sampai 4,3 juta ton batu bara metalurgi dari Adaro Minerals (ADMR).
Volume produksi ADMR, Balangan Coal Companies dan PT Mustika Indah Permai diperkirakan akan meningkat pada tahun ini. Angka ini tidak termasuk target tambang Kestrel sebesar 6 juta ton. Nisbah kupas di tahun ini diperkirakan mencapai 4,2x.
Perusahaan juga mengalokasikan belanja modal USD 400 juta sampai USD 600 juta untuk tahun ini yang digunakan untuk pengeluaran belanja modal rutin dan ekspansi, terutama untuk bisnis pertambangan, jasa dan logistik. Angka belanja modal ini belum termasuk belanja modal untuk proyek bisnis transformasi di Kaltara.