Kumparan Logo

Rencana Baru Maskapai BUMN: Pelita Air-Citilink Dilebur, Garuda Berdiri Sendiri

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) dan Wakil Menteri BUMN Tiko Wirjoatmodjo (kanan) di Gedung DPR, Kamis (31/8/2023).  Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) dan Wakil Menteri BUMN Tiko Wirjoatmodjo (kanan) di Gedung DPR, Kamis (31/8/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan

Menteri BUMN Erick Thohir blak-blakan soal rencana baru merger maskapai BUMN. PT Pelita Air Service (PAS) akan dilebur dengan PT Citilink Indonesia, sedangkan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan berdiri sendiri sebagai entitas seperti saat ini.

Rencana ini berubah dari pernyataan sebelumnya yang menyebut tiga maskapai BUMN akan disatukan yaitu Garuda Indonesia, Pelita Air, dan Citilink.

“Garuda tetap sendiri. Citilink dan Pelita (gabung). Karena Garuda sudah bagus, Citilink dan Pelita kita lebur,” kata Erick ditemui usai rapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (31/8).

Kata Erick, Garuda Indonesia dan Citilink tidak mungkin untuk membeli saham Pelita karena sama-sama milik pemerintah. Pelita dan Citilink yang digabung sebab keuangan Citilink restrukturisasi karena ada masalah. Sementara Garuda Indonesia dalam kondisi sehat.

Soal target merger, Erick berharap bisa selesai tahun ini. Tapi jika tak terkerja, dia ingin proses ini rampung awal 2024.

Pesawat Garuda Indonesia B737-800 NG dengan desain livery pesawat dengan masker terbaru hasil karya anak negeri bertajuk "Indonesia Pride". Foto: Garuda Indonesia

Harga Tiket

Erick mengaku ada dampak dari penggabungan maskapai BUMN terhadap harga tiket tergantung jumlah armada pesawat. Apabila jumlah pesawat maskapai pelat merah bertambah, mempengaruhi penjualan tiket yang semakin kompetitif, sehingga harga bisa turun. Pemerintah hanya memegang porsi 35 persen industri pesawat, sedangkan 65 persen sisanya dikuasai pihak swasta.

“Kembali enggak bisa cepat, kalau jumlah pesawatnya nambah, kompetisi terbuka, tiket menurun. Kita hanya bisa kontrol 35 persen, 65 persen swasta,” ujarnya saat ditemui usai rapat.

Erick menghitung jumlah armada pesawat Citilink, Garuda Indonesia, dan Pelita Air jika digabung baru mencapai 140 unit. Jumlah pesawat tersebut belum seperti awal sebelum pandemi COVID-19 yang mencapai 170 unit.

“Dua maskapai dengan target market yang berbeda. Kita lebih bicara total pesawat di Amerika 7.200, anggap kita 10 persen 720. Hari ini (masih) 550,” imbuhnya.

Suasana penerbangan perdana PT Pelita Air Service (PAS) dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Kamis (28/4/2022). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan