Resesi Ancaman Serius untuk Facebook Cs, Investor Lebih Selektif Suntik Dana
·waktu baca 3 menit

Ekonomi global dihadapi pada ketidakpastian. Sejumlah lembaga internasional memprediksi tahun depan dunia akan 'gelap' karena ada resesi.
Resesi diartikan sebagai melambatnya roda ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut. Ini tidak hanya terjadi pada suatu negara, tapi juga berlaku pada berbagai perusahaan dari sisi kinerja keuangan.
Ketidakpastian ekonomi global ini menjadi ancaman serius bagi perusahaan raksasa teknologi dunia. Induk Facebook, Meta, dikabarkan diam-diam melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) 15 persen pegawainya atau sekitar 12.000 orang.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi global ini investor akan selektif mendanai startup. Apalagi, model bisnis startup dikenal dengan bakar uang di awal.
"Katakanlah suntikan modal mereka dipakai bakar uang. Harganya di bawah harga keekonomian atau harga market. Ketika demand tak bisa tumbuh seiring dengan bakar uang semakin habis, ya, pasti akan mati," katanya kepada kumparan, Rabu (9/11).
Berdasarkan data CB Insights, total pendanaan startup secara global mencapai USD 108,5 miliar pada kuartal II 2022, menurun 23 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya senilai USD 141,6 miliar.
Penurunan tersebut menjadi yang terbesar secara kuartalan selama satu dekade terakhir. Alhasil, jumlah unicorn global juga menurun hingga 43 persen secara global yang hanya mencetak 85 pemain baru, jauh di bawah kuartal II 2021 sebanyak 148 unicorn.
Khusus di Indonesia, data DSInnovate DailySocial melaporkan terdapat 76 pendanaan ke startup Indonesia yang diumumkan ke publik pada kuartal I 2022.
Dari 50 pendanaan yang menyebutkan nominal, total investasinya sebesar USD 1,22 miliar. Angka ini lebih besar dari total investasi startup tahun lalu yang mencapai USD 554,7 juta dari 24 transaksi yang diumumkan nominalnya.
Tauhid menyebut, apabila bisnis startup yang dibangun masih banyak memiliki demand, maka investor akan tetap melirik. "Tapi yang berbau travelling, finance, dan sebagainya itu sangat sensitif karena bagi konsumen mungkin itu bukan prioritas utama mereka," ujarnya.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan ketidakpastian ekonomi mulai berpengaruh terhadap keuangan perusahaan termasuk ekspansi ke unit bisnis baru misalnya Meta yang agresif kembangkan metaverse. Selain itu, beberapa perusahaan digital yang disebut pandemic darling terlalu agresif dalam rekrutmen karyawan selama pandemi, berharap pola penjualan user akan terus naik.
"Padahal ketika terjadi normalisasi pergerakan masyarakat paska pandemi reda, pemasukan dari digital ad berkurang. Ini yang tidak diantisipasi oleh perusahaan digital," ujarnya.
Kondisi global turut mempengaruhi kinerja perusahaan digital di Indonesia khususnya business to consumer seperti e-commerce dan pesan antar makanan. Belum lagi ditambah kenaikan ongkos logistik akibat harga bbm naik menekan biaya operasional dan pendapatan pemain digital. Selain itu persaingan menggunakan promo diskon dianggap tidak berkelanjutan, hanya efektif menarik user baru tapi tidak untuk menjaga konsumen tetap loyal.
Riset Failory menunjukkan, 70 persen startup berisiko gagal pada tahun kedua sampai kelima setelah beroperasi. Sebanyak 34 persen startup gagal karena produknya tidak laku di pasaran. Berlanjutnya PHK karyawan perusahaan digital, hingga startup yang tutup permanen merupakan seleksi alam yang harus dilalui.
"Begitu promo diskon berkurang, konsumen mengurangi belanja. Pendanaan juga turun secara tahunan, karena investor sedang selektif memilih perusahaan yang berorientasi profitabilitas. Negara asal investor juga sedang mengalami resesi seperti AS dan China," ujarnya.
Sebelumnya, investor makin selektif investasi di startup juga pernah diungkapkan Petinggi Grup Northstar, Patrick Walujo. Diakuinya, pendanaan untuk startup semakin sulit.
Menurutnya, Investor modal ventura akan selektif melakukan pendanaan pada startup, menyusul Likuiditas di pasar global yang mulai mengetat akibat kebijakan moneter bank sentral di sejumlah negara.
"Sekarang kan startup kan harus bisa survive, sekarang kan pendanaan sulit," kata dia usai kegiatan Leaders Talk #1 yang digelar Universitas Parahyangan (Unpar) Kota Bandung pada Senin (30/5).
