Kumparan Logo

Resesi Ekonomi Ancam Dunia, Investor Sebaiknya Kurangi Investasi Saham

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi investasi saham. Foto: Mahardika Argha/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi saham. Foto: Mahardika Argha/Shutterstock

Resesi ekonomi menjadi momok yang menakutkan bagi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sederet gejolak ekonomi akibat perang Rusia-Ukraina, kenaikan suku bunga, inflasi, dan krisis pangan menyeret dunia menghadapi ancaman resesi global.

Analis Bina Artha Sekuritas Ivan Rosanova mencermati ancaman resesi berdampak pada pasar modal Indonesia, yakni peningkatan tekanan jual saham disebabkan keluarnya dana asing di tengah tren kenaikan suku bunga. Penjualan saham juga memanfaatkan kondisi penguatan dolar untuk berinvestasi di negara asal seperti Amerika.

“Selain itu juga potensi antisipasi pelaku pasar di tengah ketidakpastian untuk mengurangi posisi investasi di aset berisiko, seperti saham dan didorong tujuan pemenuhan kebutuhan yang meningkat pasca kenaikan BBM,” ujar Ivan saat dihubungi kumparan, Kamis (13/10).

Ivan menyarankan bagi investor untuk mengurangi porsi investasi saham. Apabila terjadi aksi jual besar, maka investor siap menampung saham-saham bagus yang selama ini sudah teruji dinamika kondisi ekonomi di harga yang lebih murah

“Mengurangi posisi di saham sehingga ada posisi cash yang dalam kondisi saat ini sangat dibutuhkan untuk berjaga-jaga,” sambungnya.

Ivan melihat sektor saham di luar konsumsi primer akan lebih mengalami dampak dari resesi, karena masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pokok nantinya. Ia merekomendasikan saham UNVR, INDF dan AALI yang masih terkait dengan kebutuhan pokok yakni minyak goreng.

video youtube embed

Sementara itu, Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy mengatakan resesi bisa menyebabkan koreksi besar untuk bursa saham. Investor perlu terus mengetahui perkembangan ekonomi global serta kebijakan bank moneter karena sangat mempengaruhi ekonomi ke depannya.

Jimmy menyebut saham sektor komoditas rawan terkoreksi jika demand turun akibat adanya resesi. Kemudian, saham dari sektor teknologi juga rawan terkoreksi di saat suku bunga acuan tinggi.

“Tidak harus (mengurangi porsi investasi), lebih tepatnya rebalancing portfolio. Jadi mengurangi porsi saham yang cenderung volatile,” kata Jimmy.

Jimmy melanjutkan, saham yang cenderung defensif dan memiliki track record dividen yang baik bisa dijadikan pilihan. Beberapa saham consumer goods biasa termasuk defensif dan rajin bagi dividen.