Resmi IPO, COAL Targetkan Produksi di 2022 Tembus 900 Ribu Ton
ยทwaktu baca 4 menit

PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) resmi melantai perdana (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (7/9). Dibuka Rp 100, saham COAL langsung melonjak 35 persen alias Auto Rejection Atas (ARA) di posisi Rp 135.
President Director PT Black Diamond Resources Donny Janson Manua mengungkapkan, sebagai langkah perusahaan selepas IPO, produksi tahun 2022 ditarget mencapai 800 hingga 900 ribu ton. Angka ini lebih tinggi sebesar tiga kali lipat atau setara dengan 300 persen dari tahun 2021 yang hanya mampu mencapai 260 ribu ton.
"Kalau target produksi tahun ini kita rencananya antara 800-900 ribu ton. Harapannya itu semua bisa terjual," ujar Donny dalam acara Pencatatan Perdana Saham PT Black Diamond Resources Tbk di Ritz Carlton, Rabu (7/9).
Menurut Dony, hal itu disebabkan karena mereka baru memulai pada awal 2021. Sementara tahun 2022, mereka berhasil mendatangkan unit alat demi mendukung percepatan produksi.
Selain itu, Ia menilai sektor pertambangan banyak dipengaruhi oleh cuaca. Pada semester I 2022 curah hujan meninggi, sedangkan semester II 2022 cenderung kemarau.
"Kalau mining itu dipengaruhi cuaca semester I banyak hujan, semester II lebih kering. Jadi kita bisa kejar target tergantung siklus, kita optimistis," tutur dia.
Dari sisi penjualan, Black Diamond Resources mengaku tetap mengikuti arahan pemerintah untuk mempertahankan komposisi 75 persen ekspor dan 25 persen domestic market obligation (DMO). "Komposisi akan tetap kita pertahankan 75 ekspor, 25 persen domestik," kata dia.
Black Diamond Resources berhasil mengekspor batu bara dengan kualitas middle high GAR 5.500 ke Vietnam, China dan Bangladesh. Dony menambahkan, ekspor yang paling besar adalah menuju China sekitar 40 sampai dengan 50 persen.
Untuk di Indonesia, COAL mendistribusikan produksinya ke pabrik semen dari skala besar hingga kecil. Adapun izin konsensi tambangnya yang berproduksi di Kalimantan Tengah dengan luas wilayah IUP sebesar 4.883 hektar sampai pada tahun 2031.
"Izin konsensi tambang 2031 dan itu dapat diperpanjang," tambah Dony.
Capex 2022 Capai Rp 40 Miliar
Dony mengungkapkan, kontribusi dari anak usaha Black Diamond Resources, yaitu PT Dayak Membangun Pratama (DMP) sebesar 100 persen. Dana tersebut mencapai Rp 40 miliar yang akan digunakan untuk keperluan belanja modal DMP. Sisanya akan disalurkan kepada DMP untuk digunakan sebagai modal kerja.
"Kita gunakan untuk working capital dan Capex. Nah dari penggunaan dana itu Rp 40 miliar Capex, sisanya multicap pembayaran ke kontraktor dan lain-lain," ungkapnya.
Sementara itu, realisasi Capex semester I-2022 sudah sekitar Rp 35 miliar yang akan dibayar oleh aliran dana IPO. Tidak hanya itu, aliran dana tersebut nantinya untuk pembangunan infrastruktur dari tambang mereka.
Profit COAL 2021 Tumbuh Positif Rp 27 Miliar
Dony menyebutkan, profit COAL tumbuh positif sebesar Rp 27 miliar. Selanjutnya, realisasi profit semester I 2022 sekitar Rp 83 miliar. Harga batu bara tahun 2022 berkisar USD 116 per ton, lalu tahun 2021 hanya sebesar USD 56 per ton.
"Penjualan volume lebih tinggi, selling price lebih tinggi, karena komposisi kita. Tahun ini kita lebih banyak ekspor, tahun lalu masih lebih banyak domestik, harga ekspor lebih bagus," pungkas Dony.
Adapun usai IPO, komposisi pemegang saham perseroan berubah menjadi sebesar 42 persen dimiliki oleh Sujaka Lays, PT Esa Gemilang memiliki 24 persen, Arie Rinaldi 6 persen, PT Alam Tulus Abadi 4 persen, Herry Sen 4 persen dan 20 persen dimiliki masyarakat. Perseroan menunjuk PT Surya Fajar Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek untuk membantu pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham Perseroan.
Selama masa IPO yang berlangsung dari tanggal 1, 2 dan 5 September 2022, perseroan mencatatkan telah mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) sekitar 23,58 kali atas saham yang ditawarkan. Di mana penyebaran pembeli saham tersebar pada 35 provinsi di seluruh Indonesia dan 16 negara di dunia.
Adanya kelebihan permintaan ini, disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan investor ritel dan nonritel terhadap kondisi perseroan serta keyakinan atas potensi pertumbuhan perseroan di masa mendatang.
