Respons BI Usai IMF Terbitkan Buku Tentang Mata Uang Digital
·waktu baca 2 menit

International Monetary Fund (IMF) merilis buku berjudul Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital. Salah satu yang dibahas dalam buku tersebut adalah pengembangan CBDC yang membutuhkan keputusan kompleks.
“Otoritas harus melakukan penilaian yang cermat terhadap kapasitas mereka untuk menguji, mengatur, mengawasi, dan menerapkan CBDC,” tulis IMF dalam bukunya, dikutip Rabu (15/11).
Merespons hal tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendrata, mengatakan pihaknya masih mengkaji pengembangan mata uang digital, khususnya rupiah digital di Indonesia.
“Kita assessment itu semuanya, masukan-masukan juga kita perhatikan,” kata Fili kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Rabu (15/11).
Fili mengungkapkan BI sudah menerbitkan consultative paper. Dalam paper tersebut, BI mengumpulkan berbagai masukan dari stakeholder terkait pengembangan rupiah digital.
"Ini sudah ada masukan, sedang kita kerjakan semuanya," ungkap Fili.
Dalam bukunya, IMF mengungkapkan terbitnya mata uang digital berdampak pada kondisi makroekonomi. Pasalnya, CBDC diproyeksi mampu memperkuat saluran transmisi kebijakan moneter jika dirancang dengan tepat.
"Pada tingkat kepemilikan CBDC yang moderat, efek terhadap transmisi kebijakan moneter diperkirakan relatif kecil pada masa normal," kata IMF.
Sayangnya, efek itu hanya dapat dinikmati dalam lingkungan dengan suku bunga rendah atau tekanan pasar keuangan di mana nilai CBDC meningkat.
Di sisi lain, CBDC juga memicu tingginya persaingan dana atau deposito di perbankan. Mengingat CBDC menjamin keamanan dan kemudahan dalam bertransaksi.
"Besarnya dampak ini akan bergantung pada sejauh mana CBDC bisa menjadi substitusi yang menarik dibandingkan deposito," tulis IMF.
