Bisnis
ยท
13 Mei 2020 18:21

Reza Abdul Jabbar, Peternak Sapi RI yang Sukses Garap Pasar Halal Selandia Baru

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Reza Abdul Jabbar, Peternak Sapi RI yang Sukses Garap Pasar Halal Selandia Baru (549910)
Reza Abdul Jabbar di peternakan sapi perahnya Foto: Arifin Asydhad/kumparan
Indonesia memiliki seorang pengusaha yang sukses beternak sapi di Selandia Baru. Namanya Reza Abdul Jabbar. Pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat ini memiliki lebih dari 4.000 ekor sapi perah.
ADVERTISEMENT
Bisnis Reza meliputi pemeliharaan ternak, hingga produk olahan seperti susu dan daging sapi di lahan seluas 1.000 hektar di Invercargill.
Ketua Asosiasi Muslim Southland, Selandia Baru, ini membagikan tips membangun bisnis sepertinya. Sejak masih usia sekolah, dia memang bercita-cita menjadi peternak sapi. Dia berbagi pengalaman di acara Talk About Halal Entrepreneurship yang digelar oleh IAMuslim, LPPOM MUI dan Ikatan Mahasiswa Peduli Halal (Imapela).
Kata dia, bisnis yang baik harus dimulai dari hal-hal yang baik yaitu menjalankan bisnis sesuai ajaran Islam. Halal menjadi kuncinya. Seperti ternak sapinya, dibangun dengan memperhatikan unsur kehalalan dan ke-toyyiban-nya.
"Jadi halal itu enggak cuma sapi disembelih dengan bismillah saja. Tapi, jadi barang sesuai dengan prosedur. Sapi yang tidak sehat benar, tidak bisa berangkat, dan lainnya. Ini semua kita perhatikan. Jadi halalan toyyiban," ucap dia dalam diskusi Talk About Halal Entrepreneurship secara daring, Rabu (12/5).
ADVERTISEMENT
Unsur halalan toyyiban pada produk yang dijualnya ini ternyata menjadi pasar bagi penduduk non-muslim di Selandia Baru. Kata dia, meskipun mereka bukan muslim, tapi ada kepuasan tersendiri jika mengkonsumsi produk sapi yang halal.
Reza Abdul Jabbar, Peternak Sapi RI yang Sukses Garap Pasar Halal Selandia Baru (549911)
Reza Abdul Jabbar (kanan) dan walikota Invercargill Tim Shadbolt. Foto: Dok. Istimewa
Karena itu, unsur halal sangat penting di sana. Selain berdagang sesuai ajaran Islam, juga menjadi ceruk pasar yang besar karena banyak orang-non muslim yang menjadi konsumen produk halal. Dia bahkan menilai pengolahan sapi di Selandia Baru lebih baik dibandingkan di rumah potong hewan (RPH) di Indonesia.
"Dalam pandangan saya di Cakung dan RPH lain di Indonesia, menurut saya kita lebih halal dibandingkan di Indonesia, benar-benar kita perhatikan baru diasah, pisau dicelupkan di air panas, itu bukan main-main. Kita harus berilmu sebelum berbuat," terang dia.
ADVERTISEMENT
Tak ingin ilmu berbisnisnya dikuasai sendiri, dia pun membuka kelas membangun usaha sapi yang halalan toyyiban. Banyak anak muda yang belajar dengannya, bahkan sampai datang ke peternakannya yang luas di Invercargill seperti yang dilakukan Iban.
Iban merupakan anak Indonesia berusia 16 tahun yang sempat belajar bisnis dengan Reza di rumahnya. Dia kagum dengan laki-laki yang sudah dianggap seperti anaknya itu, karena di usia belia sudah memiliki ketertarikan berdagang.
Dia bahkan menyebut sekolah yang tinggi tak menjamin bisnis sukses membangun usaha. Meski pun bukan berarti mengabaikan sekolah. Dia juga ingin anak muda mandiri, tak menerima subsidi. Kata dia, siapa pun yang menerima subsidi tak akan mandiri. Sedangkan yang berusaha sendiri akan mampu mengarungi bisnis di pasar bebas.
ADVERTISEMENT
"Kalau kalian sekolah mulu, kapan dagangnya. S2 dan S3 enggak ngaruh. Walaupun saya dulu sekolah, tapi ini dagang kayak Iban (muridnya) 16 tahun bisa. Ini yang mau kita hadirkan. Jadi kalau ada anak muda yang sudah kehilangan semangatnya, susah. Pedagang tuh kayak begitu berpikirnya," ujar Reza yang bergelar doktor ini.