kumparan
21 September 2019 15:07

Rhenald Kasali: Banyak yang Ingin Bunuh Diri Terjerat Fintech Ilegal

com-Fintech Foto: Shutterstock
Layanan financial technology atau Fintech sangat berkembang di Indonesia. Masyarakat menjadi lebih mudah untuk mendapatkan akses keuangan.
ADVERTISEMENT
Namun, layanan tersebut juga bisa menjadi petaka. Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mengatakan fintech ilegal yang semakin marak di Indonesia telah menelan banyak korban.
"Fintech ilegal cukup banyak. Kalau Anda pinjam biar cepat dalam 2 menit uang masuk Rp 1 setengah sampai Rp 5 juta, tapi sekalinya enggak bayar mesinnya mereka bisa mencari anda siapa," kata Rhenald di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (21/9).
"Anda foto dengan siapa, anak Anda namanya siapa, alamatnya di mana, disebar ke temen-teman Anda semua. Sehingga Anda pengen bunuh diri," tambahnya.
Menurut Rhenald, kecanggihan internet di era digital tak selamanya positif. Selain jerat Fintech ilegal yang berlaku seperti rentenir, internet juga kini menjadi media perdagangan manusia.
ADVERTISEMENT
"Teknologi juga bisa ngintip. Anda lagi tidur tiba-tiba lampu nyala, kemudian laptop nyala merekam Anda lagi ganti pakaian, terekam di dunia maya bisa juga. Cepat sekali semuanya," ujar Rhenald.
Rhenald juga menyoroti mengenai fenomena game online karena kecanggihan teknologi yang bisa membuat penikmatnya kecanduan sampai sakit.
Hal itu, kata Rhenald, dibuktikan dengan kejadian di China yang mulai ada Rumah Sakit untuk menangani ketergantungan game online.
"Bahkan ditemukan anak-anak itu tidak pernah ke toilet selama 3 hari karena kalau mereka main ditinggalin, itu bisa kalah game-nya," ujarnya.
Ia menuturkan sebenarnya percepatan teknologi itu harus bisa dikelola dengan baik. Untuk itu, Rhenald mengajak semua pihak menggunakan teknologi secara positif seperti dalam pembelajaran.
ADVERTISEMENT
"Eksekutif masih punya kendali, mana yang dipercepat mana yang enggak dipercepat, pasti bisa," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan