RI Ajak Malaysia Lawan Kampanye Miring Sawit oleh Uni Eropa

Pemerintah Indonesia melakukan berbagai macam cara guna melawan tuduhan miring sawit oleh Uni Eropa. Opsi yang bisa dilakukan salah satunya adalah dengan mengajak Malaysia.
Indonesia dan Malaysia adalah dua negara dengan produksi sawit terbesar di dunia. Perlu diketahui, Parlemen Eropa secara khusus menyebut industri sawit Indonesia adalah persoalan besar yang dikaitkan dengan isu korupsi, pekerja anak pelanggaran HAM, penghilangan hak masyarakat adat dan lain-lain.
Baca juga: Mendag Temui Pengusaha Bahas Sikap Eropa yang Hambat Masuk Sawit RI
"Market share kita dan Malaysia di dunia itu kan 85 persen. Nah kita berdua saja 85 persen, daripada kita sendiri-sendiri, kita berdua lah bersama-sama dengan Malaysia menghadapi tuntutan ini," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat ditemui usai melakukan pertemuan dengan para pengusaha sawit di kantor Kemendag, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Senin (17/4).

Sementara itu, dalam pertemuannya dengan sejumlah pengusaha sawit asal Indonesia, Enggar mendengarkan usulan dan saran yang disampaikan oleh para pengusaha. Masukan ini penting agar pemerintah Indonesia memiliki cara melawan serta beradu argumentasi soal sawit dengan Uni Eropa.
"Berbagai masukan dan kajian ilmiah sebagai kelengkapan materi kami bawa, terutama di Kemendag, ada beberapa masukan juga termasuk kredit karbon dihasilkan dari sawit belum ditagih, ini hadir cukup banyak," imbuhnya.
Enggar menegaskan, pemerintah Indonesia tidak takut terhadap Uni Eropa. Ia juga menyatakan apa yang dilakukan Uni Eropa adalah sebuah tindakan diskriminatif.
"Kami menuntut vegetable oil juga harus punya standar yang sama, kami tidak takut. Pemerintah dan pengusaha tidak main-main, karena semua punya komitmen bersama untuk sama-sama bisa sustainable," tegasnya.
