RI Colek AS hingga China, Minta Tak Buru-buru Normalisasi Kebijakan Moneter
·waktu baca 2 menit

Rencana normalisasi kebijakan moneter oleh negara-negara maju di tengah pandemi COVID-19 yang masih terjadi, menjadi sorotan dalam ekonomi global.
Seperti pengurangan suntikan likuiditas ke pasar keuangan (tapering) oleh Amerika Serikat. Negara-negara berkembang seperti Indonesia pun mulai mengantisipasi terjadinya tapering off.
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional, Wempi Saputra, mengungkapkan Indonesia bahkan meminta AS hingga China untuk memberi sinyal terlebih dahulu sebelum melakukan normalisasi kebijakan moneter tersebut.
Sebab, tapering off bisa berdampak negatif kepada negara-negara berkembang, termasuk keluarnya aliran modal asing (capital outflow) yang mengakibatkan depresiasi nilai tukar.
"Intinya dalam forum G20 kita colek-colek AS. Kalau mau balapan (tapering) jangan dulu-duluan. Tolong kasih tahu kalau mau maju. Kita supaya bisa siap-siap," ujar Wempi dalam konferensi pers, Jumat (28/1).
Beberapa negara memang mulai mempertimbangkan kebijakan tapering off menyusul terjadinya kenaikan tingkat inflasi. Di AS, inflasi sudah menembus level 7 persen. Begitu pula di Inggris, inflasi sudah mencapai 5 persen. Sementara di Jerman tembus 5,3 persen. Sedangkan di Indonesia tingkat inflasi masih 1,87 persen di 2021.
Untuk itu, menurut Wempi, Indonesia pun mewanti-wanti negara-negara tersebut agar mengomunikasikan secara transparan dan detail sebelum mengambil kebijakan tapering off.
"Inggris, China, Jerman kita kasih tahu, silakan mau menaikkan ini segala macam mau tapering dan mengurangi pembelian asetnya, (tapi tolong dikomunikasikan terlebih). Ini kita sampaikan di forum G20, well communicate," ujar Wempi.
Sejauh ini, AS berencana akan melakukan penurunan suku bunga acuan sebanyak empat kali, yaitu pada Maret, Juli, September, dan Desember 2022.
Merespons rencana tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia telah menyiapkan bantalan untuk meminimalisir risiko yang mungkin terjadi. Indonesia juga mencermati kebijakan moneter di beberapa negara tetangga seperti Malaysia.
"Kita sudah siap-siap Maret naikkin berapa kira-kira sekian persen, BI harus naikkin bunga sekian. Kontak Malaysia naikkin bunga berapa, dan kira-kira apa yang harus dipersiapkan oleh negara berkembang. Isu tapering itu paling fundamental," ujar Wempi.
