Kumparan Logo

RI Kaji CNG Tabung 3 Kg untuk Pengganti LPG, Diklaim Pertama di Dunia

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaiman di kantornya, Jumat (3/10/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaiman di kantornya, Jumat (3/10/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeklaim Indonesia akan menjadi negara pertama yang menggunakan tabung Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram (kg) di dunia, sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk keperluan rumah tangga.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, mengatakan bahwa CNG merupakan gas alam yang dimampatkan dalam sebuah tabung, sehingga memiliki tekanan yang sangat tinggi hingga 250 bar. Berbeda dengan LNG yang berbentuk cair, CNG masih berbentuk gas.

Laode mengatakan, teknologi dan implementasi tabung CNG sudah dikembangkan sejak tahun 1920. Pada tabung tipe 1, komponen yang digunakan adalah logam murni, kemudian berkembang menjadi tipe 2 hingga tipe 4 dengan berbagai campuran sehingga tabung menjadi lebih ringan.

"Tipe 4 ini sudah sangat ringan, jadi dia komposit fiber, kuat, dan pada kondisi hari ini tipe 4 ini dengan roadmap nanti yang sudah diterapkan oleh Pak Menteri (ESDM), Insyaallah tipe 4 ini untuk tabung 3 kg itu nanti akan pertama di dunia itu adalah di Indonesia," ungkapnya saat acara Talkshow APLCNGI dan Aspebindo, dikutip Kamis (7/5).

Bahan baku CNG, kata dia, bisa dipenuhi dari lapangan-lapangan migas raksasa yang sudah ada (existing) di Indonesia. Dengan demikian, konversi LPG menjadi CNG diperkirakan dapat menurunkan beban subsidi energi sekitar 20-30 persen sekaligus menghemat devisa.

"Saat ini gasnya ada dari hasil kita sendiri, jaraknya juga tidak jauh, walaupun jauh lewat negara lain tapi LNG-nya juga sudah kita ada di (Kilang) Bontang dan Papua jadi setelah dihitung-hitung, disimulasikan bisa menghemat sekitar 30-an persen," ungkap Laode.

Dari Konversi Minyak Tanah hingga CNG

Produk gas bumi CNG Subholding Gas Pertamina, PT PGN Tbk, mulai disalurkan ke Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Foto: Dok. PGN

Laode pun menjelaskan sejarah penggunaan bahan bakar untuk rumah tangga di Indonesia dimulai dari minyak tanah, yang kemudian dikonversi menjadi LPG karena subsidi yang digelontorkan pemerintah sangat besar.

Dia menuturkan, minyak tanah pada dasarnya merupakan bahan bakar avtur yang terbilang mahal. Maka dari itu, mulai tahun 2007, pemerintah memutuskan bergeser ke LPG yang bahan bakunya masih bisa dipenuhi mayoritas dari dalam negeri.

"Tahun 2010 itu kita sudah mulai mengimpor, tapi impor kita itu hanya 40 persen, kita masih (produksi) 2 juta ton per tahun, impornya cuma 1,6 juta ton. Jadi, masih lebih banyak LPG dalam negeri yang dipakai untuk konversi daripada impor," jelas Laode.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Laode menyebutkan kebutuhan konsumsi LPG semakin melonjak melebihi 7 juta ton per tahun, sehingga ada kenaikan impor yang signifikan. Hal ini tidak hanya membebani subsidi energi, namun juga devisa negara.

"Kita harus memikirkan inovasi apa untuk bisa mengurangi, artinya dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kita akan terus menambah impor LPG kalau tidak bisa kita konversikan ke sumber yang lain," tegas Laode.

Di sisi lain, Laode juga tidak memungkiri aspek keselamatan masih harus dipastikan kembali oleh pemerintah. Hal ini merupakan ranah Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas, yang kajiannya akan selesai dalam 3 bulan mendatang.

Laode juga menyebutkan, pemerintah akan memperhatikan kesesuaian tabung CNG dengan kompor yang saat ini menggunakan LPG. Dengan begitu, dia memastikan bahwa masyarakat tidak perlu mengganti kompor untuk bisa memakai CNG.

Produk gas bumi CNG Subholding Gas Pertamina, PT PGN Tbk, mulai disalurkan ke Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Foto: Dok. PGN

"Tabung tipe 4 dia menggunakan valve atau converter yang juga harus plug and play dan tidak menyebabkan beban tambahan, dan sampai ketika nanti sudah diproduksi, dia harus menyesuaikan sedemikian sehingga kompor tidak perlu diganti tinggal plug, sudah mengalir. Tapi tadinya yang pakai LPG sekarang pakai CNG," tuturnya.

Kendati demikian, Laode menegaskan bahwa peta jalan (roadmap) yang sudah disiapkan belum bisa diumumkan kepada publik. Hanya saja, setelah kajian selesai 3 bulan nanti, CNG tabung 3 kg akan diproduksi secara masif dengan skema bisnis yang masih digodok.

Nantinya, dia pun membuka peluang tabung CNG bisa lebih murah dari LPG, meskipun perhitungan pemerintah saat ini yakni dengan harga yang sama dengan LPG 3 kg saja, CNG sudah bisa menghemat subsidi energi hingga 30 persen.

"Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan uji tekan dan lain-lain, ini memang faktor yang paling penting Pak Menteri juga mengamanahkan ke kami itu merupakan hal yang paling utama kita pastikan sebelum ini nanti dimasifkan," tandas Laode.

instagram embed