Kumparan Logo

RI Kantongi Investasi Rp 574 T dari Jepang-Korsel, Energi Hijau Jadi Magnet

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Akasaka Guest House, Tokyo (31/3/2026). Foto: Yoshikazu TSUNO/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Akasaka Guest House, Tokyo (31/3/2026). Foto: Yoshikazu TSUNO/AFP

Pemerintah Indonesia mengantongi komitmen investasi jumbo dari Jepang dan Korea Selatan di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, komitmen tersebut merupakan hasil kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan.

“Dengan kunjungan ke Jepang menghasilkan USD 23,6 miliar dan Korea USD 10,2 miliar,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Kamis (2/4).

Total komitmen investasi dari kedua negara tersebut USD 33,8 miliar atau setara Rp 574 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.900 per Dolar AS.

Ia menegaskan, capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi di tengah gejolak global.

“Ini sebuah angka yang sangat signifikan karena Indonesia dalam situasi geopolitik yang tidak menentu ini masih menjadi daya tarik bagi para investor baik dari Jepang maupun Korea,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, minat investor dari kedua negara tersebut bahkan terus menunjukkan tren positif.

“Di tengah gejolak politik maupun ekonomi di dunia ini, kepercayaan dan minat dari investor baik dari Jepang maupun Korea sangat baik,” ujar Rosan.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berpose untuk foto saat pertemuan di kantor kepresidenan di Seoul (1/4/2026). Foto: Yonhap/AFP

Energi Hijau dan Hilirisasi Jadi Andalan

Airlangga menjelaskan, investasi yang masuk didominasi sektor strategis masa depan, terutama energi hijau dan hilirisasi industri.

“Sekturnya antara lain sektor energi dan green transition, solar power, carbon capture and storage, dan renewable energy, serta industri dan manufaktur. Baik itu baja, baterai, dan transportasi ramah lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, investasi juga mencakup sektor digital dan kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan properti dan infrastruktur.

Masuknya investasi di sektor baja, baterai, dan teknologi manufaktur memperkuat strategi hilirisasi yang tengah didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.

Sinyal Kuat dari Ekspansi Investor Lama

Presiden Prabowo Subianto melalukan pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Istana Kepresidenan Blue House, Korea Selatan, Rabu (1/4/2026). Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden

Rosan mengungkapkan, sejumlah investor yang sudah lebih dulu masuk ke Indonesia kini melanjutkan ekspansi ke tahap berikutnya seperti KCC Glass yang merupakan perusahaan asal Korea Selatan yang bergerak di industri kaca, termasuk untuk kebutuhan konstruksi dan otomotif da produsen baja terbesar dari Korea Selatan, POSCO.

“Contohnya seperti KCC Glass yang masuk ke fase kedua, kemudian juga dengan POSCO untuk fase kedua,” kata Rosan.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa investor melihat tingkat pengembalian investasi (return) yang baik serta stabilitas yang terjaga di Indonesia.

“Kalau mereka berinvestasi dan mereka melihat return-nya baik, kemudian stabil, membuat mereka ingin memperbesar investasi,” ujarnya.

Pemerintah memastikan akan menindaklanjuti berbagai komitmen tersebut agar segera terealisasi dan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional, termasuk penciptaan lapangan kerja.

instagram embed