RI Kejar Impor Minyak Murah, Ini Daftar Negara Asal Impor pada Agustus 2026

Indonesia masih mengejar pasokan minyak mentah yang efisien untuk meningkatkan ketahanan energi sepanjang perang AS-Iran memanas di Teluk Persia berimbas kepada tersendatnya aliran energi yang vital di Selat Hormuz.
Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan Indonesia akan mengimpor minyak mentah dari mana saja asal harganya murah dan tidak kena sanksi.
"Bagi kita adalah dari mana pun sumber minyaknya, selama itu efisien untuk kebaikan negara dan tidak melanggar aturan, maka itu akan menjadi prioritas negara," ungkapnya usai acara Rakernas HIPPI 2026, dikutip Selasa (13/10).
Bahlil yang juga merupakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak berkomentar banyak soal Arab Saudi yang memberikan diskon minyak mentah kepada pembeli Asia di bawah harga patokan.
Pada akhir pekan lalu, Saudi Aramco menurunkan harga minyak Arab Light untuk pembeli di Asia menjadi USD 5 per barel di bawah patokan regional untuk November seiring meningkatnya aliran melalui Selat Hormuz, harga terendah dalam enam tahun dan dibandingkan dengan diskon USD 2 per barel untuk bulan ini.
Data Impor Migas RI
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor minyak Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai USD 29,30 miliar, naik 30,73 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) sebesar USD 21,07 miliar.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh impor hasil minyak yang meningkat 51,83 persen (yoy) menjadi USD 21,34 miliar. Sementara itu, impor minyak mentah justru turun 6,25 persen (yoy) menjadi USD 7,96 miliar.
Dari sisi volume, total impor migas mencapai 38,08 miliar kg, naik sekitar 9,2 persen dibanding Januari–Agustus 2025 yang sebesar 34,88 miliar kg. Singapura menjadi negara asal terbesar impor hasil minyak Indonesia dengan nilai USD 8,49 miliar, naik 92 persen secara tahunan.
Posisi berikutnya ditempati Malaysia sebesar USD 5,10 miliar atau naik 10,6 persen (yoy), serta Amerika Serikat (AS) sebesar USD 2,68 miliar atau meningkat 44,62 persen (yoy).
Beberapa negara lain juga mencatat kenaikan signifikan. Impor hasil minyak dari Korea Selatan mencapai USD 541,92 juta atau naik 94,76 persen, sedangkan dari Uni Emirat Arab (UEA) sebesar USD 439,65 juta atau meningkat 115,56 persen.
Impor dari China tercatat USD 369,37 juta, naik 159,89 persen. Sementara impor dari Mesir melonjak sangat tinggi, dari hanya sekitar USD 183,43 juta menjadi USD 676,45 juta pada Januari–Agustus 2026, atau meningkat sekitar 469.668 persen. Angka pertumbuhan yang sangat besar ini terutama karena basis tahun sebelumnya relatif kecil.
Negara Asal Impor Minyak Mentah
Berbeda dengan hasil minyak, impor minyak mentah secara keseluruhan mengalami penurunan. Namun, beberapa negara pemasok utama justru mencatat lonjakan.
Arab Saudi menjadi pemasok terbesar dengan nilai USD 1,26 miliar dengan volume 2 miliar kg, naik 126,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Brasil menyusul dengan USD 900,23 juta, melonjak 208,62 persen, kemudian Malaysia sebesar USD 419,19 juta atau naik 95 persen.
Indonesia juga mulai mencatat impor minyak mentah dari sejumlah negara yang belum tercatat pada periode Januari–Agustus 2025. Impor dari Kazakhstan mencapai USD 194,22 juta, sementara dari Kongo sebesar USD 66,43 juta dan dari UEA sebesar USD 263,95 juta.
Sebaliknya, impor minyak mentah dari beberapa negara mengalami penurunan tajam. Dari Guinea Ekuatorial turun 100 persen menjadi nol, begitu pula dari Ghana dan Australia yang tidak lagi tercatat pada Januari–Agustus 2026. Impor minyak mentah dari Australia sebelumnya mencapai USD 507,42 juta pada Januari–Agustus 2025.
Impor Migas AS
Untuk Amerika Serikat (AS), data Januari–Agustus 2026 menunjukkan impor migas Indonesia didominasi oleh hasil minyak, sementara impor minyak mentah dari AS masih relatif kecil.
Nilai impor hasil minyak dari AS mencapai USD 2,68 miliar, naik 44,62 persen dibanding Januari–Agustus 2025 yang sebesar USD 1,71 miliar. Dari sisi volume, impor hasil minyak dari AS mencapai 4,43 miliar kg, naik 33,07 persen dari 3,32 miliar kg pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara untuk minyak mentah, nilai impor dari AS sebesar USD 74,27 juta, naik sangat tajam dibanding hanya USD 172,62 ribu pada Januari–Agustus 2025, sekitar 204 persen. Volumenya juga melonjak dari sekitar 309.180 kg menjadi 134,44 juta kg.
Jika hasil minyak dan minyak mentah digabung, impor migas dari AS sekitar USD 2,75 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026.
