RI Masih Impor 3,7 Juta Ton Susu, Produksi Lokal Baru Penuhi 20% Kebutuhan
·waktu baca 2 menit

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, mengungkap Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan susu nasional. Saat ini, produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional.
Agung mengatakan tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia juga masih relatif rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.
“Saat ini konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sekitar 17,76 liter per kapita per tahun, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya,” kata Agung saat acara Hari Susu Nusantara 2026 di Ragunan, Jakarta, Sabtu (6/6).
Di sisi hulu, populasi sapi perah nasional juga masih terbatas. Berdasarkan data yang dipaparkan Agung, jumlah sapi perah di Indonesia saat ini sekitar 540 ribu ekor.
“Di mana 85 persen dipelihara oleh peternak rakyat dengan kepemilikan di bawah 50 ekor 10 persen peternak komersial menengah dengan populasi 50-1000 ekor, dan hanya 5 persen peternakan korporasi atau megafarm dengan populasi di atas 1000 ekor,” ujarnya.
Dengan rata-rata produksi susu sebesar 16 liter per ekor per hari, total produksi susu segar nasional baru mencapai sekitar 1 juta ton per tahun.
Akibat keterbatasan produksi domestik tersebut, RI masih harus mengimpor sekitar 3,7 juta ton setara susu segar setiap tahun dengan nilai mencapai Rp 25 triliun.
“Selebihnya kita masih impor sekitar 3,7 juta ton setara susu segar dengan nilai sekitar Rp 25 triliun per tahun,” ujarnya.
Menurut Agung, kondisi itu menunjukkan sektor susu nasional menghadapi tantangan sekaligus peluang besar untuk dikembangkan.
Dia merinci sejumlah tantangan yang saat ini dihadapi sektor susu nasional, seperti keterbatasan jumlah sapi perah, dominasi peternak rakyat berskala kecil, keterbatasan lahan, kondisi iklim yang kurang ideal untuk pengembangan sapi perah, sampai tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku susu.
“Peternak rakyat skala kecil, keterbatasan lahan dan iklim, atau cuaca yang kurang cocok untuk sapi perah serta masih tingginya impor bahan baku susu,” tutur Agung.
