Kumparan Logo

RI Punya Potensi Energi Biomassa 30.000 MW, Dimanfaatkan Kurang dari 10 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petuga menyiapkan bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Berbahan Bakar Bambu di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Petuga menyiapkan bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Berbahan Bakar Bambu di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Foto: Resya Firmansyah/kumparan

Indonesia telah menetapkan target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 23 persen pada tahun 2025. Dalam target EBT tersebut, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) ditargetkan berkontirbusi sebesar 590 Megawatt.

Padahal, menurut Ketua Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) Djoko Winarno, sebenarnya potensi energi biomassa yang dimiliki Indonesia mencapai 30.589 Megawatt (MW) atau 30 Gigawatt (GW).

“Potensi energi biomassa di Indonesia ini cukup banyak, ada palm oil, sugar cane, rubber, coconut, dan lain-lain. Kalau kita lihat di sini kita itu dari potensi yang ada itu mampu membangkitkan listrik sampai dengan 30.589 Megawatt,” ujar Djoko pada webinar bertajuk Kontribusi Sektor Kehutanan untuk Pengembangan Energi Biomassa di Indonesia, Jumat (18/2).

Dari paparannya, Djoko menjabarkan potensi energi biomassa dari komoditas minyak sawit saja bisa membangkitkan listrik sebesar 12.654 Megawatt, kemudian dari pemanfaatan sekam nasi bisa membangkitkan listrik sebesar 9.808 Megawatt, serta dari limbah tebu bisa menghasilkan listrik sebesar 1.295 Megawatt.

Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Berbahan Bakar Bambu di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Foto: Resya Firmansyah/kumparan

Selain itu, menurutnya potensi energi biomassa di Indonesia juga didukung oleh faktor geografis di mana Indonesia terletak di daerah tropis yang mempunyai kawasan hutan luas.

“Indonesia terletak di daerah tropis di mana tumbuhan bisa tumbuh lebih cepat dan subur, serta juga kita memiliki budaya agraris dengan pertanian sudah menjadi kegiatan utama,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur/CEO Indoplas Energy Bobby Gafur mengatakan untuk bisa merealisasikan potensi energi biomassa tersebut membutuhkan dana investasi yang tak kecil, namun di saat yang bersamaan juga akan mampu menyerap jutaan tenaga kerja.

“Ternyata yang Pak Djoko bilang sekitar 30 Gigawatt itu saya bisa hitung sampa 32,6 Gigawatt dengan total investasi USD 52,1 miliar. Dan yang terpenting buat pemerintah, ini bisa menyerap sampai dengan 12 juta orang,” ujar Bobby.

Petuga menyiapkan bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Berbahan Bakar Bambu di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Foto: Resya Firmansyah/kumparan

Di sisi lain, lanjut Bobby, energi biomassa jika benar-benar dikembangkan juga dapat meningkatkan pendapatan negara melalui ekspor bahan baku biomassa berupa woodpellet sebesar 60 juta ton per tahun dengan nilai Rp 90 triliun per tahun.

“Jadi sekarang ini baru kurang dari 10 persen potensi yang bisa dimanfaatkan. Jadi saya rasa kalau ini kita jadikan suatu isu nasional, kita dorong bersama, kita bicara sama pemerintah, jangan cuma 590 Megawatt, kita bisa 32.000 Megawatt kok,” ujarnya.