Bisnis
·
14 Oktober 2020 12:39

Riset: Nasabah Kaya Rajin Menabung, Menengah ke Bawah Makan dari Tabungan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Riset: Nasabah Kaya Rajin Menabung, Menengah ke Bawah Makan dari Tabungan (394391)
Pegawai memberikan penjelasan kepada nasabah di Kantor Bank Negara Indonesia (BNI). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Merebaknya pandemi COVID-19 membuat nilai tabungan masyarakat di perbankan melonjak. Terutama untuk nasabah dengan nilai simpanan di atas Rp 5 miliar.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut diungkapkan oleh Senior Riset Spesialis Mandiri Institute, Andre Simangunsong. Andrea mengatakan pertumbuhan deposit di bank mencapai 8,5 persen, sementara di sisi lain penyaluran kredit hanya 1,5 persen.
"Memang pandemi menyebabkan perbankan meningkat. Jumlah tabungan di perbankan tumbuh cukup tinggi, deposit 8,5 persen. Sementara penyaluran kredit tumbuh kecil 1,5 persen, loan deposite ratio di bulan Juli di bawah 90, biasanya selalu di atas," ujar Andre dalam webinar Bappenas bertajuk pemulihan ekonomi sektor industri otomotif, Rabu (14/10).
Jika dibagi ke dalam segmen kelas tabungan masyarakat di bank, kata Andre, akan terlihat bahwa sebagian masyarakat khususnya kelas menengah atas semakin banyak menyimpan uang. Alasannya bisa karena khawatir mengenai prospek ekonomi ke depan hingga kebingungan mengalokasikan untuk pengeluaran apa di tengah pandemi.
Riset: Nasabah Kaya Rajin Menabung, Menengah ke Bawah Makan dari Tabungan (394392)
com-Ilustrasi membuat buku tabungan Foto: Shutterstock
Peningkatan deposit tabungan yang paling menonjol, menurut Andre, terjadi pada nasabah dengan nilai tabungan di atas Rp 5 miliar.
ADVERTISEMENT
"Jelas sekali nilai deposit yang klasifikasi di atas Rp 5 miliar, meningkat secara proporsi. Biasanya 45 sampai 46, ini di posisi Agustus 48,5 persen," sambungnya.
Kendati demikian, Andre juga menuturkan bahwa tak sedikit masyarakat yang turun kelas akibat terpuruknya ekonomi karena virus corona. Keadaan itu tergambar dari semakin bertambahnya jumlah nasabah dengan nilai tabungan di bawah Rp 100 juta.
Penambahan itu, kata Andre, bisa disebabkan lantaran masyarakat yang sebelumnya masuk klasifikasi di atas Rp 100 juta, menggunakan uang simpanan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi tersebut bisa juga menjadi gambaran melemahnya daya beli masyarakat.
"Memang jumlah rekening di bawah Rp 100 juta meningkat paling tajam, sepertinya memang ada perpindahan klasifikasi jumlah rekening dari yang tadinya di atas Rp 100 juta dia jadi turun. Ini melambangkan ada penurunan daya beli, atau masyarakat memakai tabungan untuk mengkonsumsi" pungkas Andre.
ADVERTISEMENT