Kumparan Logo

Risiko Defisit AS & Harga Minyak Naik, Rupiah Diproyeksi Tembus hingga Rp 18.100

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut ke depan seiring kuatnya tekanan eksternal, terutama dari pelebaran defisit fiskal Amerika Serikat (AS), risiko kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, hingga harga minyak dunia secara bersamaan.

Kendati demikian, Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Randy Manilet, menilai peluang pelemahan tajam dalam sepekan ini relatif terbatas. Setelah ditutup menguat 0,47 persen ke level Rp 17.882 per dolar AS pada Jumat (2/10), rupiah dibuka melemah 0,18 persen ke Rp 17.914 pada Senin (5/10) pagi.

“Sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.050 per dolar AS, dengan risiko melemah sesaat melewati Rp 18.100 apabila imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak meningkat secara bersamaan,” jelas Yusuf saat dihubungi kumparan, Senin (5/10).

Menurut Yusuf, tekanan global terhadap rupiah terutama berasal dari membesarnya defisit fiskal AS. Congressional Budget Office (CBO) menaikkan proyeksi defisit AS untuk tahun fiskal 2026 menjadi USD 2,1 triliun, atau naik USD 200 miliar dibandingkan proyeksi pada Februari.

Sementara itu, defisit kumulatif hingga Agustus telah mencapai USD 2 triliun. Kebutuhan pembiayaan yang besar mendorong peningkatan penerbitan surat utang AS dan membuat investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi, terutama untuk tenor panjang. Kondisi itu turut mendorong imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun ke sekitar 5,3 persen, level tertinggi sejak 2002, dari sekitar 4,15 persen pada awal tahun.

“Dampaknya terhadap rupiah berlangsung melalui penyempitan selisih imbal hasil antara SBN dan UST. Ketika selisihnya turun hingga di bawah 200 basis poin, daya tarik aset rupiah berkurang,” sebut Yusuf.

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Hatice Bakcepinar/Shutterstock

Ia melanjutkan, investor asing kemudian cenderung meminta imbal hasil SBN yang lebih tinggi atau mengurangi kepemilikannya. Tekanan itu sedikit tertahan oleh data tenaga kerja AS pada September yang hanya bertambah 29 ribu, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mereda. Namun, inflasi yang masih tinggi membuat arah kebijakan moneter AS tetap cenderung ketat.

Meski begitu, Yusuf menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya disebabkan oleh kondisi AS. Indeks dolar berada di sekitar 101,47 dan belum menunjukkan penguatan yang ekstrem. Pada 1 Oktober, ketika rupiah melemah, yuan dan rupee justru menguat.

“Perbedaan pergerakan ini menunjukkan adanya faktor domestik yang membuat rupiah lebih rentan dibandingkan sejumlah mata uang kawasan,” katanya.

Salah satu tekanan domestik berasal dari kenaikan harga minyak Brent yang sempat mencapai USD 103,5 per barel. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan devisa, mendorong risiko inflasi, serta berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi. Tekanan juga berasal dari arus keluar investor asing di pasar saham yang mencapai sekitar Rp 107,4 triliun sepanjang tahun.

“Pada saat yang sama, pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal setelah pergantian Menteri Keuangan, terutama ketika defisit diperkirakan mendekati 2,85 persen terhadap PDB. Dengan demikian, risiko pelemahan rupiah lebih mungkin muncul dari pertemuan tekanan global dan kekhawatiran domestik, bukan dari defisit AS saja,” jelas Yusuf.

Ia melanjutkan, rupiah masih memiliki sejumlah faktor penopang. Bank Indonesia (BI) terus melakukan stabilisasi melalui berbagai instrumen setelah nilai tukar sempat menyentuh Rp 18.000 per dolar AS pada pekan sebelumnya.

“Pasar SBN juga belum sepenuhnya kehilangan minat investor asing, tercermin dari arus masuk sekitar Rp 2,4 triliun sepanjang September. Selain itu, pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 5,29 persen masih memberikan dasar fundamental yang cukup kuat,” tambahnya.

Pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Yusuf menilai stabilisasi rupiah ke depan tidak dapat hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat kepercayaan pasar melalui sinyal disiplin fiskal yang konsisten, termasuk memastikan stimulus pada kuartal IV dibiayai melalui realokasi anggaran serta menjaga kredibilitas sasaran defisit 2027.

“Selama kebijakan domestik tetap terjaga, tekanan global lebih mungkin membuat rupiah berfluktuasi di sekitar Rp 18.000 per dolar AS daripada mengalami pelemahan yang tidak terkendali,” tutur Yusuf.

Menambahkan Yusuf, Ekonomi INDEF Rizal Taufikurahman menyatakan membengkaknya defisit fiskal AS bukan hanya menjadi persoalan domestik AS, tetapi juga sumber tekanan global terhadap rupiah.

Kata Rizal, kebutuhan pembiayaan yang besar membuat penerbitan US Treasury tetap tinggi dan menjaga yield pada level yang mahal. Ketika aset berbasis dolar AS menawarkan imbal hasil tinggi dengan risiko yang relatif lebih rendah, investor cenderung meminta premi yang lebih besar untuk memegang aset di negara berkembang.

“Dalam kondisi tersebut, ruang penguatan rupiah masih relatif sempit. Kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.200 per dolar AS masih realistis, tetapi risikonya cenderung asimetris ke arah pelemahan apabila yield USD bertahan tinggi dan arus modal keluar berlanjut,” kata Rizal saat dihubungi kumparan.

Menurutnya, persoalan rupiah bukan hanya mengenai kemungkinan menembus level Rp 18.000 per dolar AS, tetapi juga berapa lama rupiah dapat bertahan di level tersebut dan apakah tekanan mulai merembet ke inflasi, biaya impor, serta beban pembayaran utang dalam valuta asing.

Karena itu, Rizal menilai stabilisasi rupiah tidak dapat terus dibebankan kepada BI. Intervensi dinilai hanya memberikan waktu bagi pasar untuk menyesuaikan diri dan tidak menghilangkan sumber tekanan.

“BI memang harus menjaga daya tarik aset rupiah, tetapi pemerintah juga harus memperkuat fundamental melalui pasokan devisa, transaksi berjalan, ekspor bernilai tambah, dan kredibilitas fiskal,” ujar Rizal.

instagram embed