Riwayat Sriwijaya Air: Pernah Pesan 20 Boeing 737 MAX hingga Cerai dengan Garuda

Maskapai penerbangan Sriwijaya Air perdana mengudara di langit Indonesia pada tahun 2003, bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November.
Maskapai swasta ini didirikan oleh pengusaha Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, serta beberapa rekan mereka lainnya.
Pesawat yang dinamai serupa Kerajaan Sriwijaya di Palembang ini, memulai penerbangan perdana dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang, Jakarta-Jambi, dan Jakarta-Pontianak.
Mulanya, maskapai cuma punya satu armada jenis Boeing 737-200. Lama kelamaan, pesawat yang dimiliki pun bertambah jadi 15 dengan masih tipe Boeing. Berikut rangkuman kiprah Sriwijaya Air:
Masa Kejayaan hingga Bikin Maskapai NAM Air
Perjalanan bisnis Sriwijaya moncer hanya dalam waktu singkat. Baru 4 tahun mengudara, maskapai diganjar penghargaan keselamatan penerbangan dari Boeing tahun 2007, yaitu Boeing International Award for Safety and Maintenance of Aircraft.
Di tahun 2013, Sriwijaya mendirikan maskapai pengumpan yang diberi nama NAM Air. Sederet lainnya perusahaan yang juga tercatat sebagai anak usaha perseroan, sekolah penerbangan di Pangkal Pinang, National Aviation Management serta sekolah awak kabin bernama National Aircrew Management.
Dua tahun kemudian, maskapai mengantongi sertifikasi keselamatan penerbangan dari Flight Safety Foundation yang berbasis di Amerika Serikat.
Pesan 20 Unit Boeing 737 MAX 8
Sriwijaya Air termasuk satu dari tiga maskapai yang tercatat melakukan pembelian pesawat jenis Boeing 737 MAX 8. Dua maskapai lainnya yakni Garuda Indonesia dan Lion Air.
Sriwijaya diketahui memesan sebanyak 20 unit pesawat pabrikan Amerika Serikat itu. Namun maskapai belum sempat menerima pesawat dari pihak Boeing.
Pada perjalanannya, pesawat-pesawat itu tak pernah sampai ke tangan maskapai. Hal itu terjadi lantaran Boeing 737 MAX dilarang setelah adanya dua insiden pesawat jatuh yang menewaskan ratusan orang.
Putus Nyambung Garuda-Sriwijaya
Cemerlangnya bisnis Sriwijaya Air tak mampu bertahan lama. Maskapai mulai diterpa persoalan keuangan perusahaan.
Pada November 2018, Garuda Indonesia menjadi juru selamat Sriwijaya dengan mengumumkan niat menjalin kerja sama manajemen (KSM).
Sayangnya, hubungan kedua maskapai tak berjalan mulus. Mereka sempat beberapa kali putus nyambung hingga akhirnya benar-benar berpisah lagi di 2019.
Salah satu dampak dari putusnya KSM tersebut, GMF Aero Asia yang merupakan anak usaha Garuda sempat menolak memberikan layanan perawatan pesawat kepada Sriwijaya Air.
