Kumparan Logo

Rosan Pastikan Investasi LG di RI Tetap Lanjut, Meski Hengkang dari Proyek EV

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memberikan keterangan kepada wartawan usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/2/2025). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memberikan keterangan kepada wartawan usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/2/2025). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menegaskan bahwa meski ada kabar terkait mundurnya LG dari salah satu proyek investasi di Indonesia, komitmen perusahaan asal Korea Selatan itu masih tetap kuat. Bahkan, ekspansi lanjutan senilai miliaran dolar tengah dipersiapkan.

Rosan mengungkapkan, pertumbuhan investasi dari Korea Selatan mengalami peningkatan signifikan. Dia mengklarifikasi, meski ada pemberitaan mengenai penghentian investasi LG di Indonesia, tidak seluruh proyek mereka dihentikan.

“Pertumbuhan (investasi) untuk Korsel meningkat sangat baik. Memang kemarin ada berita LG tidak melanjutkan investasi di Indonesia, tapi tidak semua program mereka berhenti, dari empat yang ada, sudah berjalan,” kata Rosan di Kantor Kementerian Investasi, Selasa (29/4).

Investasi LG di Indonesia sebelumnya dibagi menjadi empat bagian, masing-masing memiliki skema joint venture yang berbeda. Total nilai investasi mencapai USD 9,8 miliar, dengan mitra kerja yang juga beragam.

“Terbagi dalam 4 bagian dan setiap bagian jadi ada 1 joint venture-nya ada sendiri. Jadi memang karena nilai ini sangat besar, partnernya juga beda-beda,” jelasnya.

Dari empat proyek, tiga mengalami penundaan atau pengunduran, sementara satu proyek telah selesai dengan nilai investasi mencapai USD 1,1 miliar. Proyek tersebut adalah pabrik baterai yang kini telah rampung dan siap untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Investasinya yang keempat itu yang sudah selesai nilainya USD 1,1 miliar, mereka ingin menambah investasinya yang USD 1,1 itu, mau ditambah lagi USD 1,7 miliar dolar untuk pengembangan,” ungkap Rosan.

Jika rencana ekspansi ini terealisasi, total investasi untuk joint venture keempat akan mencapai USD 2,8 miliar, sesuai dengan target awal. Proyek ini mencakup seluruh rantai pasok industri baterai, mulai dari tambang, prekursor, hingga battery pack dan daur ulang baterai.

Logo LG. Foto: Vasily Fedosenko/Reuters

Sementara itu, menyusul mundurnya LG dari sebagian proyek, perusahaan asal Tiongkok, Huayou, menyatakan minat untuk mengambil alih posisi LG. Rosan mengaku telah bertemu langsung dengan jajaran manajemen Huayou, termasuk pemilik dan chairman-nya.

“Kami pun sudah bertemu dengan Huayou, bahkan hari Sabtu ya, Sabtu malam kami bertemu dengan seluruh jajaran Huayou, termasuk owner dan chairman-nya dan insya Allah nanti kita akan lanjutkan lagi pembicaraan lebih detailnya ini pada bulan Mei,” katanya.

Rosan menambahkan, Huayou telah beroperasi di kawasan industri Morowali dan Weda Bay, dan memiliki rekam jejak kuat dalam industri pengolahan nikel.

Dengan kesiapan Huayou untuk bergabung, pemerintah berharap bisa melanjutkan realisasi investasi besar yang sempat tertunda selama lima tahun terakhir.

Rencana ini menjadi bagian dari apa yang disebut Rosan sebagai grand package, investasi strategis untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.

instagram embed