Rosan Sudah Temui Calon Investor PFII dari Asia, Masih Incar yang Lain

CEO Danantara, Rosan Roeslani mengaku sudah menemui beberapa calon investor untuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Adapun jumlahnya mencapai 110 dan semuanya berasal dari Asia.
Meski demikian, Rosan menjelaskan ia masih mengincar potensi investor lainnya. Utamanya investor yang berasal dari Timur Tengah.
“Karena kemarin yang kita temui itu baru investor atau family office yang dari Asia dulu. Belum yang Eropa, belum yang dari Timur Tengah, yang ada memang yang sebenarnya potensi yang besar tuh yang banyak yang dari Dubai ini,” kata Rosan di Kantor Pusat DJP, Jakarta pada Jumat (14/8).
Ia memang mengincar potensi dari Dubai, hal ini karena PFII memang mendapat banyak masukan dari Pusat Finansial Dubai.
Sementara terkait lokasi, Rosan menjelaskan memang pada tahap awal PFII akan berlokasi di Jakarta terlebih dahulu. Hal ini agar ekosistem PFII beroperasi terlebih dahulu.
“Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu, kenapa? Karena Pak Presiden ingin ini semua langsung kerja, ada momentum-nya ya. Walaupun nanti yang rencana juga di Bali, karena di Bali kan untuk pembangunannya akan take time ya,” ujarnya.
Sementara terkait model PFII yang akan mendominasi, Ia menuturkan bahwa investor nantinya paling banyak masuk lewat bentuk Family Office.
“Iya memang rencananya yang paling banyak family office,” ujarnya.
Selain itu, Rosan juga bicara mengenai komoditas yang akan dikelola oleh DSI. Adapun saat ini komoditas yang sudah diatur lewat DSI adalah batu bara, kelapa sawit dan ferro alloy.
“Nantinya pasti ada (komoditas lain). Ya kan sekarang ini baru tiga dulu, karena yang tiga itu adalah yang terutama yang paling besar,” kata Rosan.
Adapun saat ini ia juga menjelaskan aspek pengawasan DSI akan terus dilakukan secara luas. Ia menarget nantinya semua pelabuhan bisa diawasi oleh DSI.
“Ya, walaupun misalnya contohnya mereka banyak terkonsentrasi misalnya di beberapa pelabuhan gitu ya. Tapi ya tentunya kita akan mencakup ke semua pelabuhan yang ada.
Walaupun misalnya kalau kita tahu CPO ini lebih banyak di daerah Sumatra gitu ya,” ujarnya.
