Rp 11 Miliar Mengalir dari Sungai Rammang-rammang ke Kehidupan Warga
·waktu baca 5 menit

Pagi baru berjalan di Kampung Meruah, kawasan Rammang-rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Beberapa perahu kayu yang dijalankan warga sudah mulai bergerak perlahan membelah sungai yang diapit tingginya tebing-tebing karst.
Di atas perahu, wisatawan tampak sibuk memotret pemandangan di sekelilingnya. Ada yang membawa kamera besar, ada yang sesekali menunjuk ke arah burung yang melintas, sementara sebagian lainnya hanya duduk diam menikmati bentang alam di depan mata.
Bagi orang yang baru pertama datang, Rammang-rammang terlihat seperti kampung wisata yang tenang. Tidak ada deretan hotel besar atau pusat keramaian yang dipadati kendaraan.
Aktivitas sehari-hari masyarakat juga berjalan seperti biasa. Di pinggir rumah, warga masih menjemur hasil kebun. Sebagian berangkat ke sawah. Lainnya lagi menuju sungai untuk mencari ikan.
Namun di balik suasana yang tampak tenang itu, ada aktivitas lain yang terus bergerak. Bukan lalu-lalang wisatawan, melainkan perputaran uang yang setiap tahun nilainya mencapai miliaran rupiah.
Uang tersebut bukan hanya masuk ke pengelola wisata atau berhenti di pemilik perahu. Nilainya menyebar dan mengalir ke banyak sisi kehidupan masyarakat. Dari wisatawan yang membayar jasa perahu, uang kemudian berpindah ke pedagang makanan, penjual ikan, pemilik homestay, hingga kebutuhan rumah tangga warga.
Di Rammang-rammang, uang tidak berhenti di satu titik. Ia terus bergerak. Setidaknya itulah cara Iwan, Local Hero Rammang-rammang, melihat perkembangan kawasan yang selama beberapa tahun terakhir tumbuh menjadi salah satu tujuan wisata unggulan di Sulawesi Selatan.
Iwan menilai istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan dampak ekonomi di kawasan itu bukan pendapatan wisata, melainkan perputaran uang. Sebab, yang dihitung bukan sekadar uang yang masuk melalui tiket atau retribusi, tetapi seluruh aktivitas ekonomi yang muncul karena kehadiran wisatawan.
Setiap orang yang datang ke Rammang-rammang diperkirakan menghabiskan sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Pengeluaran tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari menyewa perahu, membeli makanan, menginap di homestay, hingga menggunakan layanan lain selama berada di kawasan wisata.
Jika jumlah tersebut dikalikan dengan total kunjungan tahunan, nilainya menjadi cukup besar.
“Di angka 51 ribu kunjungan dalam setahun itu, perputaran uang kita di angka Rp 11 miliar dalam setahun. Itu data 2025,” kata Iwan di Makassar, dikutip pada Minggu (24/5).
Dari konteks hitungan yang dijelaskan, nilai tersebut merujuk pada perputaran sekitar Rp 11 miliar per tahun. Bagi masyarakat setempat, angka itu tidak dipahami sebagai omzet atau keuntungan semata. Nilai tersebut lebih menggambarkan bagaimana uang bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas lain di dalam kehidupan warga.
Iwan kemudian menjelaskan dengan contoh sederhana. Saat seorang wisatawan menyewa perahu seharga Rp 200 ribu, tidak seluruh uang tersebut masuk ke pengelola kawasan. Sebagian besar justru tetap berada di tangan masyarakat.
“Kenapa kami menyebut perputaran uang? Jadi kayak contoh tadi. Teman-teman sekalian naik perahu. Anggaplah tarifnya misalnya Rp 300.000. Tukang perahu ini hanya mengeluarkan retribusi, itu Rp 20.000 untuk penggunaan dermaga,” ujarnya.
Dari total biaya itu, retribusi sebesar Rp 20 ribu masuk ke pengelola untuk kebutuhan kawasan dan pendapatan daerah. Sisanya tetap berada di tangan pemilik perahu dan kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Rp 20.000 ini yang masuk ke pengelola, menjadi PADS dan sebagainya. Rp 280.000 itu untuk mereka. Mau jadi popok, mau jadi mi, mau jadi ikan, mau jadi sayur, itu terserah mereka.”
Di titik itulah uang mulai bergerak ke banyak arah. Pemilik perahu mungkin menggunakan uang tersebut untuk membeli beras atau kebutuhan rumah tangga. Pedagang yang menerima uang itu kemudian menggunakannya lagi untuk membeli stok dagangan. Sebagian warga membeli ikan, membeli kebutuhan anak, membayar cicilan, atau memenuhi kebutuhan lainnya.
Perjalanannya terus berlanjut dari satu orang ke orang berikutnya. Karena itu, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku wisata yang terlihat langsung oleh pengunjung.
Di dua dusun yang masuk dalam kawasan wisata Rammang-rammang, jumlah keluarga sebenarnya tidak terlalu besar, hanya sekitar 500 kepala keluarga. Meski demikian, keterlibatan masyarakat dalam sektor wisata cukup tinggi.
Ada warga yang bekerja sebagai pengemudi perahu, ada yang membuka homestay, menjadi pemandu wisata, menjual makanan, hingga menyewakan tenda bagi wisatawan yang ingin berkemah. Sebagian lainnya terlibat secara tidak langsung, seperti pedagang sayur, pemasok ikan, hingga pemilik kebun.
“Yang keterlibat langsung saja kita di angka hampir 200 KK. Jadi kalau kita mau hitung yang tidak langsungnya, itu bisa sampai diangka 350 KK,” kata Iwan.
Dengan jumlah tersebut, hampir separuh keluarga di kawasan itu ikut merasakan dampak ekonomi dari pariwisata. Menariknya, pertumbuhan sektor wisata di Rammang-rammang tidak membuat masyarakat sepenuhnya meninggalkan pekerjaan lama mereka. Sawah tetap digarap. Kebun tetap ditanami. Sungai tetap menjadi sumber ikan.
Pilihan itu ternyata menjadi pelajaran penting ketika pandemi COVID-19 sempat menghantam sektor pariwisata. Saat banyak kawasan wisata kehilangan pengunjung dan aktivitas ekonomi melambat, kehidupan masyarakat di Rammang-rammang tidak sepenuhnya berhenti.
Mereka masih memiliki sumber pangan sendiri. Mereka masih bisa bertahan dengan cara yang selama ini sudah dilakukan bertahun-tahun.
“Ketika COVID saya ditanya, ada pengaruh nggak di Rammang-rammang? Saya bilang untuk yang kami makan hampir tidak ada. Karena kami tetap punya ikan dari sungai, kami tetap punya beras dan sebagainya,” ujar Iwan.
Yang berubah justru pola hidup masyarakat setelah ekonomi mulai tumbuh. “Ada yang nyicil motor, ada yang nyicil HP, ada yang ngambil uang bank. Itu yang kena dapat," tambahnya.
Di balik meningkatnya aktivitas wisata, masyarakat Rammang-rammang tampaknya berusaha menjaga satu hal agar tidak ikut hilang, yakni cara hidup yang selama ini mereka jalani. Sebab kawasan itu sendiri lahir dari perjalanan yang tidak singkat.
Sebelum menjadi tujuan wisata, warga Rammang-rammang menghabiskan waktu bertahun-tahun menolak aktivitas tambang marmer di kawasan karst. Cerita itu kemudian menyebar dari satu orang ke orang lain, hingga perlahan membuat orang datang berkunjung.
