Rupiah Dekati Rp 16.000 per Dolar AS, Gubernur BI: Enggak Usah Bingung dan Kaget
·waktu baca 2 menit

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mendekati level Rp 16.000. Berdasarkan data Bloomberg hingga sore ini, nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.995 per USD.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meminta masyarakat tidak bingung dan kaget melihat pergerakan nilai tukar rupiah. Menurut dia, rupiah masih dalam keadaan stabil dan akan terus membaik.
"Nggak usah kaget, nggak usah bingung, Rp 15.990 Alhamdulillah yang penting stabil. Di sekitar Rp 16.000 bahkan menuju Rp 15.900 bahkan seterusnya, dari hari ke hari nilai tukar naik turun," kata Perry dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Rabu (22/5).
"Secara keseluruhan Bank Indonesia melihat rupiah stabil dan akan cenderung menguat," tambahnya.
Perry melanjutkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara bulanan hingga 21 Mei 2024 kembali menguat 1,66 persen point to point (ptp), setelah pada April 2024 melemah 2,49 persen ptp.
"Nilai tukar Rupiah menguat dipengaruhi bauran kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia dalam memitigasi dampak rambatan ketidakpastian global,” ungkapnya.
Perry menjelaskan, respons kebijakan yang dilakukan BI pada bulan lalu antara lain mendorong aliran masuk modal asing, terutama ke SBN dan SRBI, sebesar USD 4,2 miliar per 20 Mei 2024.
Dengan perkembangan ini, nilai tukar rupiah melemah 3,74 persen dari level akhir Desember 2023. Namun masih lebih baik dibandingkan dengan pelemahan Peso Filipina, Won Korea, dan Baht Thailand masing-masing sebesar 4,91 persen, 5,52 persen, dan 5,99 persen.
“Ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan stabil dengan kecenderungan menguat didorong oleh imbal hasil yang menarik sejalan dengan kenaikan BI-Rate, premi risiko yang turun, prospek ekonomi yang lebih baik, dan komitmen Bank Indonesia untuk terus menstabilkan nilai tukar Rupiah,” kata Perry.
Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, termasuk melalui penguatan strategi operasi moneter pro-market dengan mengoptimalkan instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI.
Bank Indonesia juga memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, perbankan, dan dunia usaha untuk mendukung implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sejalan dengan PP Nomor 36 Tahun 2023.
