Rupiah Diprediksi Sentuh Rp 17.500-18.000 per Dolar AS pada Akhir 2026

Nilai tukar rupiah per dolar AS diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir tahun 2026. Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.500-Rp 18.000 per dolar AS, meski dalam jangka pendek rupiah sempat menguat.
Menurut Rully, penguatan rupiah yang terjadi belakangan belum cukup untuk menunjukkan perubahan fundamental ekonomi RI.
“Ini masih di Rp 18 ribu, Rp17.500-Rp 18.000 sih,” ujar Rully, saat Media Day Mirae Asset, di Jakarta, Selasa (18/8).
Dia menjelaskan, Indonesia mengalami defisit dalam beberapa bulan berturut-turut. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperbesar kebutuhan impor energi. Selain itu, program pemerintah yang membutuhkan bahan baku impor juga ikut meningkatkan permintaan terhadap valuta asing.
“Kalau kita lihat dua bulan berturut-turut kan mungkin kita trade defisit. Dengan minyaknya juga naik lagi kan. Ini kayaknya untuk external balance kita akan melemah,” katanya.
Maka dari itu, Rully menilai cukup sulit bagi rupiah untuk secara berkelanjutan bertahan di bawah Rp 18.000. “Cuma kalau dari sisi konsumsi, yang sebenarnya yang kita khawatirkan itu dari Pertalite sih. Kalau Pertalite makin dibatasin, itu mungkin impact ke daya beli masyarakat itu akan lebih rendah lagi,” ucap Rully.
Pimpinan Baru BI Diprediksi Lebih Pro-Growth
Di tengah tekanan terhadap rupiah itu, perubahan kepemimpinan Bank Indonesia (BI) diperkirakan membawa arah kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan.
Rully melihat BI di bawah pimpinan Pejabat Sementara sekaligus calon tunggal Gubernur BI Destry Damayanti, kemungkinan bakal lebih mengakomodasi program pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Namun, katanya, arah yang lebih pro-growth tidak berarti BI akan langsung agresif memangkas suku bunga.
“Kita lihat mungkin saat ini kebijakannya akan cenderung lebih bias ke pro-growth, kemungkinan dari Bank Indonesianya itu akan mengakomodasi program-program pemerintah, akan mengakomodasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan lain-lain,” kata Rully.
Menurut dia, tantangan utama bagi pimpinan baru BI adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas rupiah.
Lebih lanjut, dengan ruang pemangkasan suku bunga yang dinilai masih terbatas, Rully memperkirakan BI bakal lebih banyak menggunakan instrumen kebijakan di luar suku bunga untuk mendorong pertumbuhan.
“Jadi mungkin BI dalam mengeluarkan kebijakannya itu akan lebih ke non-interest rate, jadi di luar interest rate karena mungkin akan berbahaya buat rupiah kalau terlalu cepat,” ujarnya.
