Kumparan Logo

Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp 17.890 Pekan Depan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin (12/10). Rupiah diperkirakan ditutup di kisaran Rp 17.890 hingga Rp 17.950 per dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk perdagangan selama pekan depan, Ibrahim memperkirakan, rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.780-Rp 18.060 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan dalam keterangannya, rupiah ditutup menguat 16 poin ke level Rp 17.899 per dolar AS pada perdagangan Jumat (9/10), dari penutupan sebelumnya di Rp 17.915 per dolar AS.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.890–Rp 17.950. Sedangkan perdagangan dalam minggu depan di rentang Rp 17.780–Rp 18.060,” tulis Ibrahim.

Meski indeks dolar AS melemah pada Jumat, Ibrahim menyoroti sejumlah perkembangan eksternal, terutama situasi geopolitik AS-Iran dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pada Kamis (8/10), Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tengah melakukan diskusi produktif dengan Iran. Trump juga menegaskan tidak ada rencana serangan sebelum pemilihan umum sela Kongres AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026.

Pada hari yang sama, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tengah meninjau tanggapan AS atas usulan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

video story embed

Ibrahim juga menyoroti tekanan ekonomi AS terhadap Iran yang masih berlangsung di tengah konflik kedua negara yang telah memasuki bulan kedelapan. Pada Kamis, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, dan 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, serta petrokimia asal Iran.

Selain perkembangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi perhatian pasar. Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis menyatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan, tetapi ia masih fleksibel mengenai kecepatan pelaksanaannya.

Waller menilai kondisi pasar tenaga kerja AS pada September masih kokoh dan stabil, meskipun pertumbuhan jumlah lapangan kerja melambat. Ia juga mengatakan inflasi AS masih terlalu tinggi.

“Data ekonomi yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197 ribu dari 199 ribu pada minggu sebelumnya, angka yang berada di bawah perkiraan pasar sebesar 200 ribu,” kata Ibrahim dalam keterangannya.