Kumparan Logo

Rupiah Hampir Sentuh Rp 15.600, BI: Masih Lebih Baik dari Malaysia, dan Thailand

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam pengumanan hasil RDG bulanan, Kamis (20/10/2022). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam pengumanan hasil RDG bulanan, Kamis (20/10/2022). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Mata uang rupiah terus terdepresiasi terhadap dolar AS. Bahkan mata uang garuda sore ini, Kamis (20/10), melemah 0,47 persen ke 15.571,5.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyebut pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terkendali. Bahkan, dia memproyeksi, pelemahan rupiah tidak akan berdampak banyak pada sistem perbankan dan korporasi.

"Stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah sangat kuatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," kata Perry dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (20/10).

Perry menjelaskan, indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) mencapai tertinggi 114,76 pada tanggal 28 September 2022 dan tercatat 112,98 pada 19 Oktober 2022 atau mengalami penguatan sebesar 18,10 persen (ytd) selama tahun 2022.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah sampai dengan 19 Oktober 2022 terdepresiasi 8,03 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021.

Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

"Relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 10,42 persen, Malaysia 11,75 persen, dan Thailand 12,55 persen," ungkap Gubernur BI.

Depresiasi tersebut, kata Perry, sejalan dengan menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara, terutama AS untuk merespons tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global, di tengah persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif.

"Sejauh ini tingkat pelemahan ini tidak berdampak kepada kondisi perbankan maupun korporasi. Dari sisi moneter kita tentu saja juga melakukan kenaikan suku bunga BI rate," ujarnya.

Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.