Rupiah Kembali Melemah, 1 Dolar AS Kini Setara Rp 17.888
·waktu baca 3 menit

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (2/6), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus Rp 17.888 sekitar pukul 09.19 WIB. Rupiah melemah 83,50 poin atau 0,47 persen
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yg menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS dan berencana untuk sepenuhnya menutup Hormuz,” ujar Lukman kepada kumparan, Selasa (2/6).
Menurut dia, penguatan dolar AS juga didorong data manufaktur AS yang lebih baik dari perkiraan.
Lukman menilai langkah intervensi Bank Indonesia (BI) sejauh ini masih belum cukup efektif menahan tekanan terhadap rupiah. Karena itu, ia mendorong BI lebih agresif menaikkan suku bunga acuan dalam pertemuan berikutnya.
“Menurut saya BI perlu agresif menaikkan suku bunga dalam pertemuan mendatang, ini adalah langkah terbaik untuk jangka pendek,” ujar dia.
Sementara itu, pengamat pasar, Desmond Wira, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang terjadi bersamaan.
Menurut dia, konflik geopolitik AS-Iran membuat investor global beralih ke dolar AS sebagai aset aman (safe haven), sehingga menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Faktor Global Konflik geopolitik Timur Tengah (AS-Iran), ketegangan dan potensi gangguan pasokan minyak (misalnya di Strait of Hormuz) mendorong harga minyak naik. Ini memperkuat Dolar AS sebagai safe-haven, meningkatkan permintaan USD, dan menekan mata uang emerging market seperti Rupiah,” kata ia.
Selain itu, tingginya inflasi AS dan ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi (higher for longer) juga memperkuat dolar AS secara global.
Dia melanjutkan, kenaikan harga energi juga membebani Indonesia sebagai negara pengimpor minyak karena meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
“Harga energi tinggi, Indonesia sebagai net importer minyak mengalami peningkatan kebutuhan USD untuk impor, yang memperlebar defisit transaksi berjalan,” ujarnya.
Dari faktor domestik, Desmond menyoroti derasnya arus keluar modal asing (capital outflow) akibat penyesuaian indeks MSCI yang memicu aksi jual investor asing di pasar keuangan Indonesia.
“Arus keluar modal asing (capital outflow), penyesuaian indeks MSCI (penurunan bobot saham Indonesia) memicu penjualan oleh investor asing. Ini menambah tekanan jual pada Rupiah,” jelasnya.
Selain itu, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah dan isu independensi BI juga turut memengaruhi sentimen pasar.
“Kekhawatiran fiskal dan kebijakan, defisit APBN yang melebar, rencana belanja besar pemerintah, dan isu independensi Bank Indonesia,” ujar Desmond.
Ia juga menilai permintaan dolar AS yang meningkat secara musiman ikut menambah tekanan terhadap rupiah.
