Kumparan Logo

Rupiah Kembali Melemah, Tembus Rp 17.893 per Dolar AS

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menyusun yang dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/2). Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menyusun yang dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/2). Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (29/5), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus Rp 17.893 sekitar pukul 13.00 WIB.

Rupiah kemudian menunjukkan sedikit penguatan berdasarkan pengamatan pukul 13.49 WIB. Rupiah berada di level Rp 17.887, menguat 41,50 poin atau 0,23 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan rupiah belum menjadi ancaman bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meski demikian, dia memastikan pemerintah sudah memperhitungkan skenario pelemahan nilai tukar sejak awal, asumsi kurs juga telah dihitung bersamaan dengan simulasi harga minyak dunia yang lebih tinggi.

“Kita udah hitung. Pada waktu simulasi USD 102 per barel itu asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan,” ujarnya di Kantor Ditjen Pajak, Jakarta, Rabu (27/5).

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang kini mendekati level Rp 17.900 per dolar AS mulai memberikan tekanan nyata terhadap dunia usaha, terutama sektor industri yang masih bergantung pada impor bahan baku.

Menurut Shinta, tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah berlangsung secara bertahap sejak awal tahun. Rupiah yang berada di kisaran Rp 16.800 per dolar AS pada Januari terus melemah hingga mendekati level psikologis Rp 17.000 pada akhir kuartal I, sebelum bergerak menuju Rp 17.900 per dolar AS saat ini.

“Artinya, dunia usaha telah menghadapi tekanan nilai tukar ini secara bertahap selama beberapa bulan terakhir, sehingga dampaknya terhadap sektor riil semakin terasa,” kata Shinta kepada kumparan, Kamis (28/5).