Kumparan Logo

Rupiah Makin Melemah, Tembus Rp 17.606 per Dolar AS Hari Ini

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026).  Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin loyo. Berdasarkan data Bloomberg, satu dolar AS setara Rp 17.606 pada Jumat pagi (15/5) pukul 9.35 WIB, melemah 77 poin atau 0,44 persen.

Sebelumnya, rupiah terendah telah menembus Rp 17.500. Kemudian sempat menguat ke level Rp 17.475 pada Rabu (13/5). Tren pelemahan rupiah terjadi mengikuti pelemahan yang juga dialami mata uang berbagai negara.

Terkait pelemahan sebelumnya, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan beberapa faktor penyebab pelemahan rupiah, utamanya diakibatkan aksi jual saham oleh investor asing jelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Myrdal menjelaskan, faktor kedua terkait tensi perang antara AS dan Iran di Selat Hormuz yang belum mereda, bahkan terus meningkat yang mengakibatkan penguatan dolar AS. Lalu, para investor asing juga mengantisipasi libur panjang Kenaikan Yesus Kristus pada pekan ini.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.

Menurut dia, eskalasi konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global.

“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry.

Di tengah tekanan tersebut, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah yang ditempuh antara lain melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).Menurut dia, eskalasi konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global.

“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry.

Di tengah tekanan tersebut, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah yang ditempuh antara lain melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).