Kumparan Logo

Rupiah Masih Tertekan, Bank Indonesia Diperkirakan Bakal Naikkan Suku Bunga

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan suku bunga acuan atau BI Rate dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Rabu (20/5). Saat ini, suku bunga BI berada di 4,75 persen.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan peluang terbesar dalam RDG pada Rabu (20/5) adalah suku bunga acuan yang dinaikkan sebesar 25 basis poin ke level 5 persen.

“Menurut saya, peluang paling besar untuk RDG BI sudah bergeser dari sekadar mempertahankan suku bunga menjadi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 5,00 persen,” kata Josua saat dihubungi kumparan, Rabu (20/5).

Menurutnya, peluang penurunan suku bunga hampir tidak ada karena rupiah tengah berada di bawah tekanan berat. Selain itu, harga minyak dunia masih tinggi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,60 persen, serta pasar obligasi dan saham domestik juga mengalami tekanan.

“BI perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 5,00 persen karena rupiah telah menyentuh sekitar Rp 17.700 per dolar AS dan BI sudah menggunakan lebih dari USD 10 miliar cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk stabilisasi rupiah,” jelas Josua.

Josua menuturkan alasan utama kenaikan suku bunga bukan karena inflasi saat ini tinggi, melainkan risiko pelemahan nilai tukar dinilai sudah terlalu besar. Meski inflasi April 2026 turun menjadi 2,42 persen dan masih berada dalam target BI, pelemahan rupiah disebut berpotensi menekan harga barang impor, energi, bahan baku, biaya produksi, hingga ekspektasi pasar.

“Jika BI hanya mengandalkan intervensi valas, SRBI, DNDF, dan operasi moneter tanpa menaikkan suku bunga, pasar bisa menilai bahwa respons kebijakan belum cukup kuat,” ungkap Josua.

Meski cadangan devisa masih tinggi di level USD 146,2 miliar, jumlah tersebut turun dari USD 148,2 miliar pada Maret akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan stabilisasi rupiah.

Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Namun, Josua mengatakan opsi mempertahankan suku bunga tetap terbuka jika BI ingin menghindari tekanan tambahan terhadap kredit, konsumsi, UMKM, dan biaya pembiayaan pemerintah.

Pada RDG April 2026, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, kondisi pasar setelah RDG April disebut memburuk seperti pelemahan rupiah hingga harga minyak dunia naik.

“Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan suku bunga tanpa sinyal yang sangat kuat berisiko dianggap kurang meyakinkan oleh pasar,” ucap Josua.

Menurutnya, kenaikan suku bunga memang bukan solusi tunggal karena tekanan eksternal berasal dari tingginya harga minyak, perang Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal, hingga kekhawatiran fiskal. Menurutnya, kenaikan 25 basis poin tidak otomatis membuat rupiah langsung menguat tajam, tapi langkah itu dinilai penting untuk menunjukkan BI serius menjaga ekspektasi inflasi dan stabilitas pasar keuangan.

“Jika BI menaikkan suku bunga, pesannya adalah menjaga kredibilitas rupiah terlebih dahulu. Jika BI tetap menahan suku bunga, BI harus menyampaikan pesan yang sangat tegas bahwa kenaikan suku bunga tetap terbuka jika rupiah terus melemah, sambil memperkuat operasi pasar valas, SRBI, dan stabilisasi SBN,” jelas Josua.

Di sisi lain, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyatakan dengan cadangan devisa yang mencapai USD 146,1 miliar per April, BI seharusnya cukup berani melakukan intervensi di pasar valuta asing karena potensi outflow masih terbatas dan dapat diukur. Karena itu, ia berpandangan BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuan.

“Seharusnya BI rate naik itu tidak perlu. Karena BI rate naik, praktis suku bunga yang lainnya pun juga ikut naik. Itu semakin membebani real sector yang sekarang banyak yang terpukul akibat posisi valas dolar yang nilainya mahal,” jelas Myrdal kepada kumparan.

Ia menilai banyak pelaku usaha saat ini sudah tertekan akibat mahalnya dolar AS dan meningkatnya biaya ekspansi bisnis. “Jadi, jangan sampai BI rate naik menurut saya,” sebut Myrdal.

Selain itu, ia memperkirakan potensi outflow harian di pasar keuangan berkisar USD 2 miliar hingga USD 3 miliar dan jumlah tersebut dinilai masih dapat diantisipasi oleh BI.

“Kalaupun ada yang membuat kenapa sekarang kelihatannya pressure-nya besar ya, bisa jadi karena dividen,” kata Myrdal.

video story embed